|
Hasan Askari 6
ilmu-Nya akan kebaikan, entah disukai atau dibenci! Dankalian adalah para pasien, sedangkan Allah adalah dokterkalian. Jika kalian mengikuti pengobatan-Nya niscaya Dia menyembuhkan kalian. Namun jika kalian membangkang
268
Hasan Askari
ilmu-Nya akan kebaikan, entah disukai atau dibenci! Dan
kalian adalah para pasien, sedangkan Allah adalah dokter
kalian. Jika kalian mengikuti pengobatan-Nya niscaya Dia
menyembuhkan kalian. Namun jika kalian membangkang
terhadap-Nya niscaya Dia menjadikan kalian sakit.”
“Lalu bilamana kamu, hai Abdullah,” lanjut Nabi saw,
“melihat penuntut kebenaran dari seseorang, apakah
hakim mengharuskan ia dalam pembuktian atas
tuntutannya itu menurut usulan terdakwa? Jika begitu,
maka klaim dan kebenaran bagi seseorang atas seorang
lainnya tidaklah pasti, dan tiada beda antara penganiaya
dan yang teraniaya, antara benar dan salah!”
“Hai Abdullah, adapun perkataanmu: Atau kamu (hai
Muhammad) datang bersama Allah dan malaikat secara
berhadapan menemui kami dan kami melihat mereka
dengan mata kepala kami”, sesungguhnya ini jelas
mustahil. Tuhan kami tidak seperti makhluk, yang datang
dan pergi, bergerak dan dan menjumpai sesuatu, sehingga
Dia harus datang padanya. Kalian telah bertanya dengan
kemustahilan ini. Sebenarnya yang kau serukan itu adalah
sifat patung-patung berhala kalian yang lemah lagi cacat,
yang tidak mendengar, tidak melihat, tidak mengetahui
dan bergantung pada kalian.
“Hai Abdullah, bukankah kamu memiliki penghasilanpenghasilan
dan kebun-kebun di Tha`if juga perkebunan
di Mekah dan pengurusnya?” tanya Nabi saw.
“Ya,” jawabnya.
269
Teladan Abadi
“Apakah kau mengawasi keadaan semuanya dengan sendiri
ataukah dengan utusan-utusan (perantara-perantara)
antara kau dan para pekerjamu?”
“Dengan utusan-utusan,” jawabnya.
“Apakah sekiranya para pekerjamu, buruh dan pegawaimu
berkata kepada utusan-utusanmu, ‘Kami tidak memercayai
kalian dalam pengutusan ini, kecuali kalian datang kepada
kami bersama Abdullah bin Abi Umayah, supaya kami
dapat melihat dirinya dan mendengar apa yang kalian
sampaikan darinya secara lisan’, kau memaklumi mereka
atau demikian itu boleh bagi mereka?” selidik Nabi.
“Tidak,” jawabnya.
“Lalu apa yang harus dimiliki utusan-utusanmu, bukankah
mereka datang dengan tanda yang benar darimu, yang
menunjukkan atas kebenaran mereka, sehingga para
buruhmu memercayai mereka?”
“Ya,” jawabnya.
“Hai Abdullah, apakah utusanmu, sekiranya ketika
mendengar perkataan itu dari mereka, kembali padamu
dan berkata, ‘Mari datang bersamaku! Karena mereka
mengusulkan padaku agar kau datang bersamaku!’,
bukankah bagimu dia menentang perintahmu dan kau
berkata padanya, ‘Kamu adalah seorang utusan, bukan
penyuruh’?”
“Ya,” jawabnya.
“Mengapa kau mengusulkan pada utusan Tuhan semesta
alam sesuatu yang mana kau sendiri melarangnya bagi
270
Hasan Askari
para buruhmu untuk mengusulkannya kepada utusanmu?
Mengapa kau menginginkan utusan-Nya mencela Tuhannya
dengan menyuruh dan melarang-Nya, sementara kau
sendiri tidak mengizinkan hal seperti ini bagi utusanmu
kepada para buruhmu? Ini adalah hujah yang pasti untuk
membatilkan semua yang kau sebutkan dalam usulanmu
hai Abdullah!”
Rasul berkata lagi, “Adapun perkataanmu: ‘Atau kau
mempunyai rumah yang penuh perhiasan’, yaitu emas,
tidakkah kau dengar bahwa kebesaran Mesir ialah memiliki
rumah-rumah dari emas?”
“Ya,” jawabnya.
“Apakah dengan begitu [mereka] menjadi nabi?”
“Tidak!” jawab Abdullah.
“Demikian juga tidak harus Muhammad (saw) menjadi
nabi karena mempunyai rumah-rumah, dan dia tidak
memanfaatkan kebodohanmu dengan hujah-hujah
Allah.”
“Adapun perkataanmu: ‘Atau kau naik ke langit—dan
kami tidak akan percaya dengan kenaikanmu itu—sampai
kau turunkan kepada kami sebuah kitab yang kami
membacanya’, hai Abdullah! Naik ke langit itu lebih sulit
dari turun darinya. Jika kau akui bahwa kau tidak akan
beriman apabila aku naik, maka begitu pula dengan
turunnya. Kemudian kau katakan: ‘sampai kau turunkan
kepada kami sebuah kitab yang kami membacanya setelah
itu, kemudian aku tidak tahu apakah aku beriman ataukah
271
Teladan Abadi
tidak kepadamu’, maka, kau hai Abdullah, mengakui
bahwa kau menentang hujah atasmu, maka tidak ada
obat bagimu kecuali bimbingan-Nya bagimu melalui para
wali-Nya dari manusia atau malaikat rabbaniyah-Nya. Dan
telah turun kepadaku hikmah yang tinggi lagi mencakup
untuk kebatilan semua yang kau usulkan.”
Maka Allah berfirman: “Katakanlah (wahai Muhammad):
“Mahasuci Tuhanku, bukankah aku Ini hanya seorang
manusia yang menjadi rasul?””.252
“Alangkah jauh Allah dari berbuat sesuatu yang mungkin
dan yang mustahil, yang diusulkan oleh orang bodoh.
Aku tiada lain adalah seorang manusia dan rasul, yang
mengharuskanku mengadakan hujah Allah yang diberikan
kepadaku. Tiada layak bagiku menyuruh Tuhanku,
melarang dan menguji-Nya, lalu aku menjadi seperti utusan
yang diutus oleh raja kepada kaum yang menentangnya
kemudian kembali padanya menyuruhnya berbuat sesuatu
yang mereka usulkan padanya,” ujar Nabi saw.
Abu Jahal berkata, “Hai Muhammad, satu hal lagi. Bukankah
kau mengatakan bahwa, ‘Kaum Musa terbakar (disambar)
petir ketika mereka meminta supaya Allah menampakkan
diri secara jelas (dengan mata kepala) kepada mereka?’”
“Ya,” jawab Nabi.
Ia berkata, “Jika memang kau seorang nabi, tentu kami
telah terbakar juga. Karena mereka sebagaimana yang
mereka katakan: ‘sebelum kami melihat Allah dengan
terang’, sedangkan kami juga mengatakan: ‘kami tidak
272
Hasan Askari
akan beriman padamu sampai kamu (hai Muhammad)
datang bersama Allah dan malaikat secara berhadapan
kami melihat mereka dengan mata kepala kami’”.
Rasulullah saw menjawab, “Hai Abu Jahal, tidak tahukah
tentang kisah Ibrahim al-Khalil ketika naik di alam
malakût, sebagaimana firman Allah: Dan demikianlah
Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan
(Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami
memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang
yakin.253 Allah menguatkan penglihatannya ketika
mengangkatnya di langit, hingga dia melihat bumi dan
isinya, yang tampak dan yang tidak tampak. Kemudian ia
melihat seorang lelaki dan perempuan dalam perbuatan
keji, lalu mendoakan mereka dengan kebinasaan, maka
binasalah mereka. Kemudian melihat dua yang lainnya
lalu dia mendoakan mereka dengan kebinasaan maka
binasalah mereka. Kemudian ia melihat dua yang lain
lagi lalu [ketika] dia hendak mendoakan mereka, Allah
mewahyukan kepadanya: “Hai Ibrahim, hentikan doamu
terhadap hamba-hamba-Ku sesungguhnya Aku Maha
Pengampun, Maha Penyayang, Mahaperkasa lagi Maha
Penyabar, tidaklah merugikan-Ku dosa-dosa para hamba-
Ku sebagaimana tidak memberi manfaat bagi-Ku ketaatan
mereka. Aku tidak mengatur mereka dengan menghapus
kemarahan seperti pengaturanmu. Maka jauhkan doamu
dari hamba-hamba-Ku, sesungguhnya engkau adalah
hamba yang memberi peringatan tiada sekutu dalam
pemerintahan dan tiada yang pendominasi terhadap-Ku
273
Teladan Abadi
dan juga hamba-hamba-Ku. Hamba-hamba-Ku bersama-
Ku di antara tiga perantara: (1) mereka bertaubat kepaada-
Ku, maka Kuampuni mereka, Kuampuni dosa-dosa mereka
dan Kututupi aib-aib mereka; (2) atau Aku cegah azab-
Ku dari mereka dengan pengetahuan-Ku bahwa akan
keluar dari sulbi-sulbi mereka, keturunan-keturunan kaum
beriman, maka Aku bersikap ramah terhadap ayah-ayah
mereka yang kafir dan bersikap lamban terhadap ibu-ibu
mereka; (3) Aku angkat azab-Ku dari mereka supaya lahir
orang beriman dari sulbi-sulbi mereka.
“Jika mereka telah berserakan maka turunlah azab-Ku
kepada mereka dan bala`-Ku meliputi mereka. Apabila
sudah tiada ini dan itu, maka turunlah azab-Ku yang telah
kupersiapkan bagi mereka lebih besar dari yang kamu
inginkan atas mereka. Karena azab-Ku bagi hamba-hamba-
Ku adalah berdasarkan keagungan dan ketinggian-Ku. Hai
Ibrahim, biarkan antara Aku dan hamba-hamba-Ku. Karena
Aku amat menyayangi mereka daripadamu. Biarlah antara
Aku dan mereka, karena sesungguhnya Aku Mahaperkasa,
Mahasabar, Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana. Aku
mengatur mereka dengan ilmu-Ku dan memberlakukan
hukum dan takdirku pada mereka.”254
2. Abu Muhammad (al-‘Askari as) berkata, “Di Mekah
Rasulullah saw diperintah oleh Allah untuk menghadap
Baitul Maqdis dalam shalatnya dan menjadikan Ka’bah
berada di sampingnya. Namun jika tidak bisa maka
bagaimanapun dia harus menghadap Baitul Maqdis.
Rasulullah saw melakukannya selama beliau di Mekah
274
Hasan Askari
tiga belas tahun. Ketika beliau di Madinah dan dalam
shalatnya masih menghadap Baitul Maqdis dan berpaling
dari Ka’bah selama 17 atau 16 bulan, kaum Yahudi
mempermasalahkannya dengan mengatakan: ‘Demi
Allah, Muhammad tidak mengetahui bagaimana dia shalat
sampai dia menghadap ke kiblat kami dan dalam shalatnya
dia menurut ibadah kami’.
“Berat demikian itu bagi Rasulullah saw atas apa yang
mereka sampaikan dalam menghadap kiblat mereka,
dan beliau menginginkan Ka’bah. Lalu Jibril turun dan
Rasulullah berkata padanya, ‘Hai Jibril, seandainya Allah
memalingkan aku dari Baitul Maqdis kepada Ka’bah.
Karena aku merasa tersiksa dengan apa yang disampaikan
oleh kaum Yahudi mengenai kiblat mereka.’
“Jibril berkata: ‘Mohonlah kepada Tuhanmu supaya
Dia menghadapkanmu kepada Ka’bah! Sebab Dia
tidak akan menolak permohonanmu dan tidak akan
mengecewakanmu apa yang engkau inginkan’. Setelah
beliau berdoa, Jibril naik lalu kembali di saat itu dan
berkata, ‘Bacalah hai Muhammad:
Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke
langit255, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu
ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah
Masjidil Haram dan dimana saja kamu berada, palingkanlah
mukamu ke arahnya..”256
Kemudian Yahudi berkata ketika itu (al-Baqarah 142):
“Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari
275
Teladan Abadi
kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat
kepadanya?”
Maka Allah menjawab mereka: Katakanlah: “Kepunyaan
Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada
siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus.”257.
Dialah yang memiliki keduanya (Ka’bah dan Baitul Maqdis)
dan perintah-Nya mengubah kiblat seperti Dia mengubah
(mengarahkan) kalian pada sisi lain: Dia menunjuki orang
yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus. Dan Dia Maha
Mengetahui maslahat mereka dan mengantarkan ketaatan
mereka kepada surga-surga an-Nai’m.”
3. Abu Muhammad al-Askari as berkata: “Kaum Yahudi
mendatangi Rasulullah saw, mereka mengatakan: ‘Hai
Muhammad, kiblat ini adalah Baitul Maqdis. Anda
shalat menghadapnya selama 14 tahun, kini Anda
meninggalkannya. Kebenarankah yang telah Anda jalani
itu? Kini Anda meninggalkannya kepada kebatilan,
karena yang menentang kebenaran adalah batil. Ataukah
kebatilan yang telah Anda jalani sepanjang masa itu? Kami
tidak percaya karena Anda sekarang dalam kebatilan!”
Rasulullah saw menjawab, “Yang dahulu itu adalah
kebenaran dan yang ini adalah kebenaran. Allah berfirman:
Katakanlah: “Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; dia
memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke
jalan yang lurus”.
“Jika diketahui kebaikan bagi kalian, wahai hambahamba,
dalam penghadapan kalian ke timur, maka Dia
276
Hasan Askari
memerintahkan kalian dengannya. Dan jika diketahui
kebaikan bagi kalian dalam menghadap barat, maka Dia
memerintahkan kalian dengannya. Dan jika diketahui
kebaikan bagi kalian dalam menghadap selain keduanya,
maka Dia memerintahkan kalian dengannya. Jadi
janganlah kalian mengingkari pemeliharaan Allah dalam
hamba-hamba-Nya dan tujuan-Nya kepada kebaikankebaikan
kalian.
”Kalian telah meninggalkan bekerja pada hari Sabtu
kemudian kalian melakukannya pada semua hari setelah
itu. Lalu kalian meninggalkannya pada hari Sabtu kemudian
kalian melakukannya setelah itu. Apakah kalian telah
meninggalkan kebenaran kepada kebatilan atau kebatilan
kepada kebenaran, ataukah kalian meninggalkan kebatilan
kepada kebatilan atau kebenaran kepada kebenaran?
Katakanlah bagaimana menurutmu akan perkataan
Muhammad dan jawabannya kepada kalian?”
Mereka berkata, “Meninggalkan pengamalan pada
hari Sabtu adalah kebenaran, kemudian setelah itu
pengamalannya adalah kebenaran.”
Rasulullah saw berkata, “Demikian juga kiblat Baitul Maqdis
pada waktunya adalah kebenaran, kemudian kiblat Ka’bah
pada waktunya adalah kebenaran.”
Mereka bertanya, “Hai Muhammad, adakah perubahan
bagi Tuhanmu mengenai perintah-Nya kepadamu shalat
menghadap Baitul Maqdis sampai kamu menghadap
Ka’bah?”
277
Teladan Abadi
Rasulullah menjawab, “Apa yang berubah bagi-Nya tentang
hal itu, bahwa Dia Maha Mengetahui apa yang akan terjadi
dan Mahakuasa atas kebaikan-kebaikan (manusia). Dia
tiada mendapati diri-Nya satu kekeliruan pun dan tiada
mengeluarkan pandangan bertentangan dengan yang
lalu. Tiada baginya penghalang yang mampu menghalangi
kehendak-Nya. Tiada berubah kecuali memang sifatnya
begitu. Sedangkan Dia Yang Mahaagung lagi Mahatinggi
dari semua sifat lemah itu.
”Hai kaum Yahudi, beritahu aku tentang Allah, bukankah Dia
memberi sakit kemudian menyehatkan dan menyehatkan
kemudian menmbuat sakit? Berubahkah bagi-Nya dalam
hal itu? Bukankah Dia menghidupkan dan mematikan,
berubahkah bagi-Nya dalam semua ini?”.
“Tidak,” jawab mereka.
“Demikian juga Allah dalam memerintah nabi-Nya
Muhammad supaya shalat menghadap ke Ka’bah setelah
Dia memerintahnya shalat menghadap Baitul Maqdis.
Tiada perubahan bagi-Nya pada awal kali pertama.
”Bukankah Allah mendatangkan musim dingin setelah
musim panas dan musim panas setelah musim dingin,
adakah perubahan bagi-Nya dalam semua itu?”.
“Tidak,” jawab mereka.
“Demikian juga Dia tiada berubah dalam masalah kiblat.
”Bukankah dalam musim dingin mengharuskan kalian
melindungi diri dari kedinginan dengan pakaian tebal
dan pada musim panas mengharuskan kalian berlindung
278
Hasan Askari
dari panas? Adakah perubahan dalam musim panas ketika
kalian diperintah berbeda dengan perintah pada musim
dingin?”.
“Tidak,” jawab mereka.
“Demikian pula Allah, Dia memerintah kalian di satu
waktu demi kebaikan yang Dia ketahui dengan sesuatu
dan di waktu lain demi kebaikan yang Dia ketahui dengan
sesuatu lainnya. Jika kalian mematuhi Allah dalam dua
keadaan itu, maka kalian berhak mendapatkan pahala-
Nya. Lalu Allah menurunkan ayat:
Bagi Allah timur dan barat, maka di manapun kalian
berpaling di situ ada wajah Allah. Sesungguhnya Allah
Mahaluas lagi Maha Mengetahui. (QS al-Baqarah: 115)
”Yakni jika kalian menghadap atas perintah-Nya, maka
di situ ada wajah yang kalian tuju, yakni Allah dan yang
kalian harapkan pahala-Nya. Hai hamba-hamba Allah,
kalian adalah seperti orang-orang sakit! Dan Allah Tuhan
alam semesta adalah seperti tabib. Jadi, kebaikan bagi
yang sakit ada pada apa yang diketahui dan diatur oleh
tabib, bukan pada apa yang diinginkan dan diusulkan oleh
yang sakit. Bukankah jika kalian mematuhi perintah Allah
niscaya kalian beruntung?”
Imam (al-‘Askari) as ditanya, “Wahai putra Rasulullah,
mengapa Dia memerintahkan kiblat yang pertama?”
Beliau menjawab, “Ketika Allah Swt berfirman, dan Kami
tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu” yaitu Baitul
Maqdis, “melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata)
279
Teladan Abadi
siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot, yakni,
melainkan agar Kami mengetahui darinya secara nyata
setelah Kami mengetahuinya, yang akan terlihat nantinya.
Demikian itu bahwa keinginan penduduk Mekah adalah
menghadap Ka’bah.”
”Maka Allah berkehendak menjelaskan para pengikut
Muhammad dari orang-orang yang menentangnya dalam
mengikuti kiblat yang tidak disukai dan Muhammad
memerintahkan dengannya. Ketika penduduk Madinah
menginginkan Baitul Maqdis beliau perintahkan mereka
berpaling darinya dan menghadap ke Ka’bah, untuk
menampakkan orang yang setuju dengan Muhammad
dalam apa yang tidak disukainya. Lalu dia membenarkan
dan menyetujuinya.
dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat,
kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh
Allah.
”Jika menghadap ke Baitul Maqdis pada saat itu terasa
berat kecuali orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah,
maka diketahui bahwa Allah memerintahnya sesuatu yang
tidak diinginkan hamba, untuk menguji ketaatannya dalam
menentang hawa nafsunya.”
4. Abu Muhammad (as) berkata: “Jabir bin Abdillah al-Ansari
berkata, ‘Rasulullah saw ditanya oleh Abdullah bin Shuriya
(seorang anak Yahudi yang buta, kaum Yahudi menyatakan
bahwa dia adalah orang Yahudi yang paling alim dalam
kitabullah (Taurat) dan mengetahui ilmu-ilmu para nabi),
280
Hasan Askari
tentang banyak masalah yang mendesak beliau (terlibat di
dalamnya). Maka Rasulullah menjawabnya dengan sesuatu
yang tidak dapati diingkari.
Ia bertanya, “Hai Muhammad, siapakah yang datang
kepadamu dengan membawa berita-berita ini dari Allah?”
“Jibril”.
Ia berkata, “Seandainya selain dia yang datang kepadamu,
sudah pasti aku mengimanimu. Tetapi Jibril adalah musuh
kami di antara para malaikat. Seandainya Mikail atau
lainnya selain Jibril, yang datang kepadamu, aku pasti
beriman kepadamu.”
“Kenapa kalian menjadikan Jibril musuh kalian?”
Ia menjawab, “Karena dia menurunkan bencana dan
cobaan kepada Bani Israil. Ia telah menghalangi Danial
dari membunuh Bakht Nasr, sehingga kuat kuasanya dan
membinasakan Bani Israil. Semua cobaan itu diturunkan
oleh Jibril. Sedangkan Mikail datang kepada kami dengan
membawa rahmat.”
“Celaka kamu, apakah kamu tidak mengetahui perintah
Allah dan apa dosa Jibril, dia hanya menaati Allah dalam
apa yang Dia kehendaki terhadap kalian? Tahukah kalian
malaikat maut, apakah dia itu adalah musuh kalian,
sementara Allah mewakilkan padanya dalam mencabut
nyawa makhluk? Tahukah kalian ayah dan ibu ketika
mereka menakuti anak-anak obat yang pahit demi kebaikan
mereka, haruskah anak-anak mereka menjadikan orangtua
mereka itu musuh? Tidak! Tetapi kalian bodoh akan Allah
281
Teladan Abadi
dan lalai dari hikmah-Nya.”
“Aku bersaksi bahwa Jibril dan Mikail berbuat atas
perintah Allah dan taat kepada-Nya. Memusuhi yang
satu berarti memusuhi yang lain. Siapa yang mengaku
mencintai satunya dan membenci lainnya, dia telah kafir
dan berdusta. Begitupula Muhammad dan Ali adalah dua
saudara, seperti Jibril dan Mikail adalah dua saudara. Maka
siapa yang mencintai keduanya maka dia adalah kekasih
Allah. Dan siapa yang membenci keduanya maka dia
adalah musuh Allah. Siapa yang membenci salah satunya
dan mengaku cinta pada lainnya, sungguh dia telah
berdusta dan mereka berdua lepas diri dari dia. Dan Allah
swt, malaikat dan hamba-hamba pilihan-Nya berlepas diri
dari dia,” kata Yahudi itu.
Abu Muhammad berkata: “Itulah sebab turunnya firman
Allah, “Katakanlah: Siapa yang memusuhi Jibril…” (QS al-
Baqarah: 97)
Yang datang dari kaum Yahudi musuh-musuh Allah ialah
perkataan yang buruk mengenai Jibril dan Mikail dan yang
datang dari musuh-musuh Allah kaum Nashibi (pembenci
keluarga Nabi) ialah perkataan yang lebih buruk darinya
(perkataan Yahudi) mengenai Allah, Jibril, Mikail dan
seluruh malaikat Allah.
Adapun yang datang dari kaum Nasshab (baca: nashibi)
ialah bahwa ketika Rasulullah saw selalu mengungkapkan
tentang Allah, keutamaan-keutamaan yang Allah
khususkan baginya, dan kemuliaan yang Allah karuniakan
282
Hasan Askari
padanya, beliau mengatakan dalam semua itu, ‘Jibril
menyampaikan kepadaku dari Allah…!’, terkadang
mengatakan: “Jibril di sebelah kanannya dan Mikail di
sebelah kirinya, dan Jibril bangga kepada Mikail bahwa
dia di sebelah kanan Ali. Karena yang kanan lebih utama
dari yang kiri. Sebagaimana nadîm (teman) malaikat
Malik agung di dunia, yang ditempatkan oleh malaikat
Malik di sebelah kanannya, bangga kepada nadîm lainnya
yang ditempatkan di sebelah kirinya. Dan mereka berdua
bangga kepada Israfil yang berada di belakangnya (Malik)
berkhidmat. Malaikat maut, yang menempatkannya di
belakang, dan bahwa sebelah kanan dan kiri lebih mulia
darinya (bagian belakang). Seperti kebanggaan di sisi
malaikat Malik karena nilai tambah bagi kedekatan tempat
mereka...’
Rasulullah saw bersabda, dalam sebagian hadisnya,
“Sesungguhnya malaikat yang termulia dia sisi Allah adalah
yang paling cinta kepada Ali bin Abi Thalib dengan.
Dialah (malaikat tersebut) yang mengatur para malaikat,
yang memuliakan Ali di atas semua manusia setelah
Muhammad al-Mushthafa”.
Pada kesempatan lain beliau bersabda, “Sesungguhnya
para malaikat langit-langit dan hijab-hijab sangat
mendambakan dapat melihat Ali bin Abi Thalib, bagai
ibu kandung merindukan anaknya yang berbakti lagi
menyayangi...”
Kaum nashibi mengatakan, “Sampai kapan Muhammad
mengatakan, “Jibril, Mikail dan para malaikat, semuanya itu
283
Teladan Abadi
adalah mengagungkan Ali dan Allah Swt berfirman khusus
mengenai Ali tanpa seluruh makhluk. Kami berlepas diri
dari Allah, dari malaikat, dari Jibril dan dari Mikail untuk
mengutamakan Ali setelah Muhammad. Dan kami berlepas
diri dari para rasul Allah yang mengutamakan Ali setelah
Muhammad.”
”Adapun yang dikatakan Yahudi, bahwa Yahudi adalah
musuh-musuh Allah, ketika Rasulullah datang ke Madinah,
mereka mendatanginya bersama Abdullah bin Shuriya.
Ia berkata, ‘Hai Muhammad, bagaimana tidurmu? Telah
diberitakan kepada kami tentang tidurnya nabi yang akan
datang di akhir zaman?’
Beliau menjawab, ’Mataku tidur tetapi hatiku tidak!’
’Anda benar wahai Muhammad!’ ucapnya. Lalu ia
bertanya, ’Hai Muhammad, beritahu aku anak itu dari
seorang laki atau dari seorang perempuan?’
Nabi saw menjawab, ’Tulang, urat, dan saraf adalah
dari lelaki. Sedangkan daging darah dan rambut dari
perempuan.’
’Anda benar, hai Muhammad,’ ucapnya. ’Beritahu aku
bagaimana anak itu mirip a’mâm (paman-pamannya,
saudara ayah), tidak ada kemiripan dengan akhwâl
(paman-pamannya, saudara ibu), dan ia mirip akhwâl-nya
tidak mirip sedikit pun dengan a’mâmnya?’
Rasulullah saw menjawab, ’Di antara keduanya, mana
yang air maninya mendominasi air mani pasangannya,
maka kemiripan ada padanya.’
284
Hasan Askari
’Anda benar hai Muhammad,’ ucapnya. ’Lalu beritahu aku
tentang yang akan lahir dan yang tidak akan lahir?’
Beliau menjawab, ’Jika benih itu keruh (tidak bersih) maka
tidak akan lahir, namun jika benihnya jernih maka akan
lahir.’
Ia bertanya, ’Beritahu aku tentang Tuhanmu!’
Maka turunlah (Surah al-Ikhlas):
“Katakanlah: ”Dia-lah Allah, yang Maha Esa...” (sampai
akhir ayat).
Ibn Shuriya berkata, ’Anda benar sebagian dan masih
ada di sisiku pertanyaan-pertanyaan. Jika Anda dapat
menjawabnya, maka aku beriman kepadamu dan
mengikutimu. Siapakah malaikat yang datang kepadamu
dengan membawa apa yang Anda katakan dari Allah?’
’Jibril.’
Ia berkata, ’Dia itu musuh kami di antara para malaikat,
dia turun dengan pembunuhan, bencana dan peperangan.
Sedangkan utusan kami Mikail, dia datang dengan
kegembiraan dan kelapangan. Seandainya Mikail yang
datang kepada kami maka kami beriman kepadamu.
Karena Mikail memenuhi milik kami, sedangkan Jibril
menghancurkan milik kami dan karena itu dia adalah
musuh kami.’
Salman Farisi bertanya padanya, ’Kapan permusuhannya
dengan kalian?’
Ia menjawab, ’Wahai Salman, dia memusuhi kami sering
dan berulang-ulang. Di antara yang terdahsyat kepada
285
Teladan Abadi
kami, yaitu Allah mengabarkan kepada para nabi-Nya
bahwa Baitul Maqdis akan rusak oleh tangan seorang
laki bernama Bakht Nasr di zamannya. Dan memberitahu
kami masa saat (Baitul Maqdis) rusak. Allah memunculkan
masalah demi masalah, Dia menghapus dan menetapkan
sekehendak Dia.
’Ketika sampai kepada kami berita itu saat hancurnya
Baitul Maqdis, para pendahulu kami mengutus seorang
laki Bani Israil dari golongan yang kuat dan nabi yang
utama. Ia termasuk nabi mereka yang bernama Danial. Ia
diminta untuk membunuh Bahkt Nasr dan dibekali muatan
harta untuk pengeluaran dalam hal ini. Ketika berangkat
mencarinya, di Babil ia bertemu dengan seorang pemuda
yang lemah lagi miskin, tidak punya daya dan pertahanan.
Sahabat kami mencoba membunuhnya, namun Jibril
mencegahnya dan berkata: “Jika Tuhan kalian yang
memerintahkan kehancuran kalian, maka sesungguhnya
Allah tidak menguasakanmu atasnya. Jika demikian,
maka apa alasan kamu membunuhnya?’ Sahabat kami
membenarkannya dan meninggalkannya, lalu kembali
kepada kami dan menceritakannya kepada kami. Kemudian
Bakht Nasr menjadi kuat dan berkuasa. Ia perangi kami
dan merusak Baitul Maqdis. Karena itu kami menjadikan
dia musuh kami dan Mikail adalah musuh Jibril.’
Salman berkata, ’Hai Ibn Shuriya, dengan akal yang
menyimpang inikah kalian menjadi sesat? Lihatlah para
pendahulu kalian, bagaimana mereka mengutus orang
membunuh Bakht Nasr, padahal Allah telah mengabarkan
286
Hasan Askari
dalam kitab-kitabnya melalui lisan para rasul bahwa dia
akan berkuasa dan merusak Baitul Maqdis? Mereka ingin
mendustakan para nabi dalam berita-berita mereka
atau mencela mereka dalam berita-berita mereka itu.
Atau mereka memercayai mereka dalam berita dari
Allah, namun bersamaan itu mereka ingin memerangi
Allah. Bukankah mereka dan orang-orang mengutusnya
(Danial) adalah kafir kepada Allah? Permusuhan apakah
yang dapat dinisbatkan pada Jibril, sementara dia yang
menghalanginya (Danial) dari memerangi Allah dan
mencegah pendustaan berita Allah Swt?’
Ibn Shuriya berkata, ’Allah Swt telah memberitakan hal
itu melalui lisan para nabi. Tetapi Dia menghapus dan
menetapkan apa yang Dia kehendaki.’
Salman berkata, ’Jika kalian tidak memercayai sesuatu dari
Taurat berupa berita-berita tentang masa lalu dan akan
datang, sesungguhnya Allah menghapus dan menetapkan
apa yang Dia kehendaki. Kalau begitu, barangkali Allah
telah mencopot Musa dan Harun dari kenabian dan
keduanya membatilkan seruan mereka berdua. Karena
sesungguhnya Allah menghapus dan menetapkan apa
yang Dia kehendaki. Barangkali setiap kali keduanya
menyampaikan berita kepada kalian dari Allah bahwa
akan terjadi, maka tidak akan terjadi. Dan apa yang tidak
akan terjadi barangkali akan terjadi. Begitu juga apa yang
tidak pernah terjadi, barangkali telah terjadi. Barangkali
Dia menghapus janji-Nya memberi pahala dan menghapus
ancaman-Nya akan menyiksa, karena Dia menghapus dan
287
Teladan Abadi
menetapkan apa yang Dia kehendaki. Kalian ini tidak
mengetahui makna “Allah menghapus dan menetapkan
apa yang Dia kehendaki”. Karena itu kalian menjadi kafir.
Kalian mendustai berita-berita tentang kegaiban dan kalian
menyimpang dari agama Allah.’
’Aku bersaksi bahwa siapa yang menjadi musuh Jibril
maka dia adalah musuh Mikail. Keduanya adalah musuh
bagi yang memusuhi keduanya dan berdamai dengan
yang berdamai dengan keduanya.’
Ketika itu Allah menurunkan firman-Nya sesuai perkataan
Salman: “Katakanlah, ‘Barangsiapa yang memusuhi Jibril…”
dalam mengangkat para kekasih Allah atas musuh-musuh-
Nya dan dalam menyampaikan keutamaan Ali as dari
sisi Allah sebagai kekasih-Nya, ‘Sesungguhnya dia (Jibril)
yang menurunkannya (al-Quran )..”. Jibril menurunkan
al-Quran ini, ‘ke dalam hatimu (hai Muhammad) dengan
izin Allah, membenarkan apa yang ada di hadapannya)’
berupa semua kitab Allah ‘dan petunjuk’ dari kesesatan
‘dan berita gembira bagi orang-orang beriman’ dengan
kenabian Muhammad dan kepemimpinan Ali dan para
imam sesudahnya, bahwa mereka (orang-orang beriman)
adalah benar-benar para kekasih Allah jika mereka mati
atas berwilayah kepada Muhammad dan Ali serta keluarga
mereka yang suci.
Kemudian Rasulullah saw bersabda, “Hai Salman,
Allah membenarkan perkataanmu dan sepakat
dengan pandanganmu. Sesungguhnya Jibril dari Allah
mengatakan, ‘Hai Muhammad, Salman dan Miqdad adalah
288
Hasan Askari
dua saudara yang tulus dalam mencintamu dan mencintai
Ali saudaramu, washimu dan karibmu. Keduanya dalam
sahabatmu adalah seperti Jibril dan Mikail dalam malaikat,
siapa yang membenci salah satunya adalah musuh. Menjadi
kekasih siapa yang mencintai Muhammad dan Ali dan
menjadi musuh siapa yang memusuhi Muhammad dan Ali
serta para kekasih mereka.
’Sekiranya penghuni bumi mencinta Salman dan Miqdad
sebagaimana dicintai oleh para malaikat langit-langit,
hijab-hijab, al-kursi dan al-‘arasy, karena kemurnian cinta
mereka (Salman dan Miqdad) kepada Muhammad dan Ali.
Mereka bersahabat dengan orang-orang yang mencintai
Muhammad dan Ali dan bermusuhan dengan orangorang
yang memusuhi mereka, maka Allah tiada menyiksa
seorang pun dari mereka.’258
Warisan Imam Askari dalam Fikih
Terdapat teks-teks fiqhiyah dari Imam Askari as, yang
memuat berbagai macam bab fikih. Jumlah teks itu mendekati
75 nas, sebagaimana yang disebutkan dalam musnad Imam
Askari. Berikut adalah contoh-contoh pilihannya:
Masalah Thaharah
1. Dari Muhammad bin Rayan: “Aku menulis surat kepada
beliau seraya bertanya, ‘Apakah darah kutu busuk mengalir
seperti mengalirnya darah serangga? Bolehkah seseorang
mengkiyaskan darah kutu busuk pada serangga, lalu ia
melakukan shalat (dalam terkena darahnya)?’
289
Teladan Abadi
Imam menjawab, ‘Boleh shalat dan suci darinya adalah
lebih baik.’259
2. Dari Hasan bin Rasyid: Al-faqih al-‘Askari (as) berkata,
“Berkumur dan memasukkan air ke dalam hidung tidak
ada dalam (atau bukan bagian dari) mandi juga dalam
wudu.”260
Masalah Shalat
Dari Muhammad bin Abdul Jabbar: “Aku menulis surat
kepada Abu Muhammad (as), untuk bertanya, ‘Bolehkan shalat
dengan memakai kopiah sutra murni?’”
Beliau menjawab: “Tidak sah shalat dengan memakai sutra
murni.”261
Dari Ismail bin Sa’d al-Asy’ari: “Aku menulis surat
kepadanya untuk bertanya tentang pakaian sutra, bolehkah
orang laki shalat dengannya?”
“Tidak [boleh],” jawab Imam.262
Dari Muhammad bin Abdul Jabbar: “Aku menulis surat
kepada Abu Muhammad untuk bertanya: ‘Bolehkah shalat
dengan kopiah yang menempel di atasnya bulu yang dagingnya
tidak dimakan (haram) atau ikat sutra murni atau ikat dari bulu
kelinci?’”
Beliau membalas: “Tidak sah shalat dengan sutra murni.
Jika bulu itu adalah yang disucikan (dari binatang sembelihan),
maka sah shalatnya, insya Allah.”263
Dari Sulaiman bin Hafsh al-Marwazi, dari Imam Askari as:
“Bilamana pertengahan malam tiba, nampak putih di tengah
290
Hasan Askari
langit mirip tiang dari besi menerangi dunia, dalam waktu
satu jam lalu hilang dan gelap. Masuk akhir pertiga malam,
muncul putih dari ufuk timur menerangi dunia dalam waktu
satu jam kemudian hilang. Itulah waktu shalat malam. Lalu
gelap sebelum fajar. Kemudian terbit fajar shadiq dari ufuk
timur”. Ia (Sulaiman) berkata: ‘Barangsiapa ingin shalat pada
pertengahan malam, hendaklah perpanjang (sampai sepertiga
malam—penerj.).”264
Ali bin Muhammad (meriwayatkan) dari Muhammad bin
Ahmad bin Mathhar: “Ia menulis surat kepada Abu Muhammad
(as), mengabarkan tentang riwayat hadis bahwa Nabi saw
shalat malam di bulan Ramadan dan lainnya sebanyak 13
rakaat. Di antaranya shalat witir dan (sunnah) fajar.”
Imam menjawab, “Allah memberkahi lisan beliau! Nabi
melakukan shalat selama dua puluh malam di bulan Ramadan,
setiap malamnya 20 rakaat: setelah maghrib 8 rakaat dan
setelah isya 12 rakaat. Beliau melakukan mandi pada malam
ke-19, malam ke-21 dan 23. kemudian melakukan shalat pada
dua malam itu (21 dan 23) 30 rakaat: 12 setelah maghrib dan 18
setelah isya dan melakukan shalat seratus rakaat, yang dalam
setiap rakaatnya membaca surat al-Fatihah dan qul huwallâhu
ahad (Surah al-Ikhlas) sepuluh kali. Beliau melakukan shalat
hingga akhir bulan setiap malamnya 30 rakaat, sebagaimana
telah kujelaskan padamu.”265
Masalah Puasa
Muhammad bin Yahya meriwayatkan dari Muhammad:
“Aku menulis surat kepadanya (as), ‘Seseorang telah meninggal
dan atasnya qadha (puasa) sepuluh hari dalam bulan Ramadan
291
Teladan Abadi
dan dia mempunyai dua (anak sebagai) walinya. Bolehkah
keduanya membayar untuknya, lima hari oleh yang satu dan
lima hari oleh yang lain?’
Beliau menjawab: “(Anak) Yang paling besar sebagai walinya
mengqadha sepuluh hari mewakilinya, insya Allah.”266
Hamzah bin Muhammad menulis surat kepada Abu
Muhammad (as), ”Kenapa Allah mewajibkan puasa?”
Beliau membalas: “Agar si kaya mengetahui rasa lapar,
sehingga ia menjadi belas terhadap si fakir.”267
Ash-Shaduq meriwayatkan dari Abul-Hasan Ali bin Hasan
bin al-Faraj al-Mu`adzin, “Muhammad bin Hasan Karkhi
memberitahuku, ia berkata, ‘Aku mendengar Hasan bin Ali
(al-‘Askari as) berkata kepada seseorang di rumahnya: ‘Hai
Abu Harun, siapa yang berpuasa sepuluh hari berturut-turut,
niscaya masuk surga.’268
Muhammad bin Isa meriwayatkan dari Ali bin Bilal, ia
berkata: “Aku menulis surat kepada Thayib al-‘Askari (as),
‘Bolehkah memberi fitrah untuk keluarga yang bepergian,
mereka ada sepuluh kurang atau lebih, kepada seorang yang
butuh dan layak (diberi)?’
Beliau menjawab, ‘Ya, lakukanlah demikian itu!’269
Masalah Khumus dan Zakat
Kulaini meriwayatkan dari Ali bin Muhammad bin Sahal
bin Ziyad dari Muhammad bin Isa dari Muhammad bin Rayan,
ia berkata: “Aku menulis surat kepada al-‘Askari, ‘Tuanku,
sampai kepada kami sebuah riwayat bahwa Rasulullah saw
tidak memiliki dunia kecuali khumus.’
292
Hasan Askari
Beliau menjawab: “Sesungguhnya dunia dan isinya adalah
milik Rasulullah (saw).”270
Syekh Thusi berkata, “Ar-Rayan bin ash-Shalt meriwayatkan,
‘Aku menulis surat kepada Abu Muhammad (as): ‘Apakah yang
wajib bagiku, wahai Tuanku, dalam penghasilan kincir di tanah
sebidang milikku dan dalam harga ikan, pohon dan batang
kayu yang kujual dari bidang ini?’
Beliau membalas: ‘Wajib khumus bagimu, insya Allah!’”271
Masalah Haji
Ali bin Muhammad Hadhini menulis kepadanya, “Sepupuku
berwasiat agar berhaji untuknya setiap tahun 15 dinar, namun
itu tidak cukup. Maka, apakah saran Anda dalam hal ini?”
Beliau menjawab, “Kamu jadikan dua haji dalam satu haji,
sesungguhnya Allah mengetahui hal ini.”272
Masalah Nikah dan Talak
Kulaini meriwayatkan dari Muhammad bin Yahya dari
Abdullah bin Ja’far, “Aku menulis surat kepada Abu Muhammad
(as): ‘Seorang perempuan menyusui anak seorang laki. Halalkah
bagi lelaki itu mengawini putri perempuan penyusu ini.”
Beliau menjawab, ’Tidak! Tidak halal baginya.’”273
Muhammad bin Hasan Shaffar menulis surat kepada
Abu Muhammad Hasan bin Ali, mengenai perempuan
yang ditinggal mati suaminya dan dia menjalani iddah. Ia
membutuhkan orang yang dapat menafkahinya, maka dia
harus bekerja. Pertanyaannya, bolehkah baginya keluar,
bekerja, dan menginap di luar rumahnya untuk pekerjaan dan
kebutuhan selama iddahnya?”
293
Teladan Abadi
“Tidak masalah demikian itu, insya Allah,” jawab
Imam as.274
Masalah Keputusan (Hukum) dan Kesaksian
Dituliskan kepadanya mengenai seorang lelaki yang
mengatakan pada dua orang lelaki: “Saksikanlah kalian berdua
bahwa segenap rumah yang dimilikinya di tempat ini beserta
batasan-batasannya semua adalah untuk fulan bin fulan. Semua
hartanya yang di rumah berupa barang-barang, sementara
bukti (kepemilikan) akan barang-barang itu tidak disebutkan,
yang mana sajakah itu. Apa hukumnya tentang hal ini?’
Beliau menjawab, “Berlaku (sebagaimana) jika suatu
pembelian meliputi keseluruhannya, insya Allah!”275
Muhammad bin Hasan Shifar menulis surat kepada Abu
Muhammad bin Ali as, ‘Diterimakah kesaksian penerima wasiat
bagi si mayit bahwa ia berutang pada seseorang bersama saksi
lain yang adil?’
Imam menjawab, ’Jika bersamanya bersaksi orang adil
lainnya, maka yang mengklaim harus bersumpah.’”
“Bolehkah bagi penerima wasiat bersaksi bagi pewaris
mayit, yang masih kecil atau sudah dewasa, (bersaksi)
dengan benar atas mayit atau selainnya. Dan dia pemegang
(pengasuh) bagi pewaris yang masih kecil dan tidak bagi yang
sudah dewasa?”
Beliau menjawab: “Ya, dan penerima wasita harus bersaksi
dengan benar dan tidak menyembunyikan kesaksiannya.”
“Diterimakah kesaksian penerima wasiat atas mayit (bahwa
dia) berutang dengan saksi lainnya yang adil?”
294
Hasan Askari
Beliau menjawab, “Boleh, setelah bersumpah.”276
Masalah Wasiat
Muhammad bin Hasan Shaffar menulis surat kepada Abu
Muhammad Hasan bin Ali (as): “Seseorang mewasiatkan
sepertiga kekayaannya dalam budak-budaknya, apakah di
dalamnya sama laki dan perempuan? Ataukah untuk satu orang
laki sama dengan dua orang perempuan dalam wasiat?”
Beliau menjawab, “Boleh bagi si mayit wasiatnya
berdasarkan apa yang dia wasiatkan, insya Allah.”
Dituliskan kepadanya, ‘Diterimakah kesaksian penerima
wasiat atas mayit yang berutang (padanya), dengan saksi lain
yang adil?’
‘Ya, setelah bersumpah.’”277
Muhammad bin Ahmad bin Yahya meriwayatkan dari
Muhammad bin Abdul Jabbar; Aku menulis surat kepada al-
Askari as, ‘Seorang perempuan berwasiat kepada seorang
lelaki. Ia mengaku berutang padanya (lelaki itu) delapan ribu
dirham, juga apa yang dimilikinya dari harta benda rumah
berupa bulu domba, logam, kuningan, tembaga dan semua
hartanya. Ia menyatakan pada orang yang diwasiati dan
memanggil saksi atas wasiatnya. Ia berwasiat supaya berhaji
untuknya dua haji dari warisan ini dan ia memberi budak
(perempuan)nya 400 dirham. Kemudian perempuan itu
meninggal dan meninggalkan seorang suami. Kami tidak tahu
bagaimana jalan keluarnya ini, dan masalahnya tidak jelas
bagi kami. Si penulis wasiat mengatakan bahwa perempuan
itu telah bermusyawarah dengannya supaya menuliskan
295
Teladan Abadi
untuknya sesuatu yang sah bagi penerima wasiat. Penulis wasiat
itu menjawab: “Tidak benar peninggalanmu ini kecuali kau
mengaku berutang padanya dengan kesaksian saksi-saksi dan
kau menyuruhnya setelah itu supaya dia melaksanakan apa
yang kau wasiatkan”. Lalu penulis wasiat menulis wasiat atas
ini dan perempuan itu mengakui utangnya itu pada penerima
wasiat. Maka bagaimana pandangan Anda tentang ini dan
kami akan mengetahuinya untuk kami amalkan, insya Allah.”
Beliau menjawab dengan tulisan tangannya: “Jika utang
itu benar, diketahui dan dipahami, maka utang dibayar dari
modal, insya Allah. Jika utang itu tidak benar diserahkan apa
yang perempuan itu wasiatkan sepertiganya kepada mereka
berdua (penerima wasiat dan suami—penerj.), cukup atau
tidak!”278
Muhammad bin Hasan Shifar menulis surat kepada Abu
Muhammad Hasan bin Ali, ”Seorang lelaki berwasiat kepada
dua orang lelaki, bolehkah yang satu mengambil separuh
warisan dan yang lain mengambil separuh lainnya?”
Beliau menjawab, “Hendaknya keduanya tidak menentang
(ketetapan) si mayit dan berlaku sebagaimana yang dipesankan
pada keduanya, insya Allah.”279
Masalah Wakaf
Muhammad bin Hasan Shifar berkata, “Aku menulis surat
kepada Abu Muhammad (as), bertanya tentang bagaimana
wakaf yang sah itu? Telah diriwayatkan bahwa ‘wakaf jika
bersifat permanen, maka itu batil yang tidak diterima untuk
warisan, namun jika bersifat temporal maka itu benar yang
296
Hasan Askari
disahkan’. Orang-orang mengatakan: ‘yang temporal itu
disebutkan di dalamnya bahwa “dia mewakafkan pada fulan
dan penerusnya. Jika mereka tiada maka wakaf itu untuk kaum
fakir miskin sampai Allah mewariskan pada bumi dan siapa
yang mendudukinya”. Sementara yang lain mengatakan, ‘Ini
adalah temporal jika disebutkan bahwa dia mewakafkan pada
fulan dan penerusnya yang ada, dan tidak disebutkan pada
akhirnya untuk kaum fakir miskin sampai Allah mewariskan
pada tanah dan siapa yang mendudukinya’. Sedangkan yang
memandang permanen mengatakan, ‘ini wakaf!’ dan tidak
menyebut seorang pun . Mana yang sah dan mana yang batil
dari semua ini?”.
Beliau menjawab: “Wakaf itu sesuai apa yang diwakafkan
oleh yang punya, insya Allah”.280
Masalah Waris
Fahfaki bertanya kepada Abu Muhammad as, “Apakah
perempuan miskin yang lemah mengambil satu bagian,
sedangkan lelaki dua bagian?”
Abu Muhammad as menjawab, “Sesungguhnya perempuan
itu tidak diwajibkan jihad, tidak pula nafkah dan bukan tempat
bergantung. Karena, itu semua diwajibkan bagi lelaki.”
Dalam hati aku mengatakan, “Pernah disampaikan
kepadaku bahwa Ibn Abil-‘Auja` bertanya kepada Abu Abdillah
[Ja’far Shadiq] tentang masalah ini dan beliau menjawab
dengan jawaban ini.” Abu Muhammad menoleh kepadaku dan
berkata, “Memang, ini adalah masalah Ibn Abil Auja` dan dari
kami adalah satu jawaban. Jika maksud masalah adalah satu,
297
Teladan Abadi
maka (jawaban yang) berlaku bagi penerus kami adalah apa
yang telah berlaku bagi pendahulu kami. Karena pendahulu
kami dan penerus kami di dalam ilmu adalah sama. Keutamaan
mereka adalah milik Rasulullah dan Amirul Mukminin as.’”281
Masalah Penghidupan
Diriwayatkan dari Muhammad bin Ali bin Mahbub,
“Seseorang menulis surat kepada al-Faqih (Imam Askari as)
mengenai seorang lelaki yang memiliki kincir di sungai sebuah
desa, sedangkan desa itu milik seorang atau dua orang lelaki.
Lalu pemilik desa ingin mengalirkan air ke desa yang terletak
di selain sungai yang berkincir itu sehingga kincir itu tidak aktif.
Apakah dia berhak ataukah tidak?”
Imam menjawab, “Hendaklah ia bertakwa kepada Allah
dan bertindak dalam hal ini dengan baik serta tidak merugikan
saudaranya yang mukmin.”
Ditanyakan kepada beliau, “Seseorang mempunyai saluran
air di sebuah desa, lalu seorang lainnya ingin menggali saluran
lainnya melebihinya, tidak jauh jarak antara keduanya sehingga
tidak merugikan lainnya di sebuah tanah ketika menjadi keras
atau lunak.”
Beliau menjawab, “Hendaknya ia (yang menggali saluran
lain) tidak merugikan satu sama lain, insya Allah.”282
Muhammad bin Yahya bin Abdullah bin Ja’far
meriwayatkan, “Aku menulis surat kepada ar-rajul (baca:
seseorang, maksudnya Imam Askari) bertanya kepadanya
tentang seseorang yang membeli seekor unta atau sapi
untuk kurban, ketika disembelih di tenggorokannya terdapat
298
Hasan Askari
bungkusan berisi dirham atau dinar atau permata, hak siapakah
barang itu?”.
Beliau menjawab, “Beritahu tentang barang itu pada
si penjual. Jika dia tidak mengetahuinya, maka barang itu
milikmu, insya Allah.”283
Muhammad bin Hasan berkata, “Aku menulis surat
kepadanya (Imam Askari as) mengenai seseorang yang menjual
sepetak kebun. Di dalamnya ada sebuah pohon dan anggur,
ia mengecualikan sebatang pohon. Bolehkah ia melewati
kebun itu sampai di tempat pohon yang dikecualikannya? Dan
bagi pohon yang dikecualikannya, berapa (luas) tanah yang
mengitarinya, apakah seukuran ranting-rantingnya? Ataukah
seukuran tempat di mana pohon itu tumbuh?”
Beliau menjawab, “Baginya sesuai apa yang telah dijualnya
dan yang tidak dijualnya, maka hendaklah ia tidak melanggar
hak dalam hal ini, insya Allah!”284
Muhammad bin Hasan Shifar menulis surat kepada Abu
Muhammad (as) mengenai seseorang yang membeli tanah
dari orang lain dengan batas-batasnya yang persegi. Di tanah
itu ada tanaman, pohon kurma dan pohon-pohon lainnya.
Ia tidak menyebutkan pohon kurma, tidak pula tanaman dan
pohon dalam suratnya. Tetapi disebutkan di dalamnya bahwa
‘dia telah membeli tanah dengan semua hak tanah di dalam dan
di luarnya, apakah itu termasuk tanaman, pohon kurma dan
pohon-pohon lainnya di dalam hak-hak tanah ataukah tidak?”
Beliau menjawab, “Jika dia membeli tanah dengan batasanbatasannya
dan pintunya tidak tertutup bagi dia, maka baginya
berikut semua isinya, insya Allah.”285
299
Teladan Abadi
Muhammad bin Yahya meriwayatkan dari Muhammad
bin Husain, “Aku menulis surat kepada Abu Muhammad (as):
’Seseorang menitipkan sesuatu pada orang lain, lalu orang
(yang dititipi) itu menaruhnya di rumah tetangganya kemudian
hilang. Haruskah orang itu karena menyalahi perintah
(permintaan)nya menggantikan miliknya?’
Beliau menjawab, ’Ia harus menjamin barang yang
dititipkan padanya, insya Allah.’”286
Diriwayatkan dari Muhammad bin Ali bin Mahbub,
’Seseorang menulis surat kepada al-Faqih (Imam Askari
as) mengenai orang menyerahkan baju kepada tukang
pemutih kain untuk diputihkannya. Lalu tukang pemutih
itu menyerahkannya kepada tukang pemutih lainnya untuk
diputihkannya, kemudian baju itu hilang! Haruskah tukang
pemutih kain (yang pertama) menggantikan baju yang dia
serahkan pada tukang pemutih kedua walaupun dia orang
yang amanat?”
Beliau menjawab, “Ia harus menjamin kecuali dia orang
terpercaya lagi amanat, insya Allah.”287
Masalah Anak-anak
Abdullah bin Ja’far Himyari menulis surat kepada
Abu Muhammad Hasan bin Ali (al-Askari as), bahwa dia
meriwayatkan dari kaum salihin (as) bahwa, ‘Hendaklah kalian
khitan putra-putra kalian pada hari ketujuh, supaya mereka
suci. Karena sesungguhnya bumi akan menjerit kepada
Allah Azza wa Jalla dikarenakan kencingnya anak yang tidak
dikhitan’. Sementara para tukang cantuk negeri kami tidak ahli
demikian. Mereka tidak menyunat anak dalam usia tujuh hari.
300
Hasan Askari
Namun kami punya seorang tukang cantuk Yahudi (yang ahli
dalam menyunat), boleh ataukah tidak orang Yahudi menyunat
anak-anak muslimin?’
Beliau menjawab, “Pada hari ketujuh (disunnahkan—penerj.),
maka janganlah kalian menentang sunnah, insya Allah!’”.
Warisan Doa
1. Ibn Fahd meriwayatkan dari Imam Hasan Askari as,
“Barangsiapa mesra dengan Allah, akan merasa asing dari
manusia. Dan, salah satu tanda mesra dengan Allah ialah
merasa asing dari manusia.”288
2. Diriwayatkan dari beliau as, “Atasilah masalah selagi
kamu dapati kemampuan yang memampukanmu (untuk
menyelesaikannya). Karena bagi setiap hari ada rezeki
yang baru. Ketahuilah, desakan (yang terus menerus)
dalam masalah dapat melenyapkan keindahan (semangat
hidup), juga menyebabkan lelah dan payah. Bersabarlah
sampai Allah membukakan sebuah pintu yang kamu
mudah melewatinya. Betapa dekat tindakan bersama
orang teraniaya dan keamanan bersama orang yang lari
karena takut. Barangkali kecemburuan itu adalah bagian
dari didikan Allah. Nasib-nasib itu bertingkat-tingkat. Maka
itu, janganlah kamu terburu-buru terhadap sebuah hasil
yang tidak kamu capai. Karena sebuah hasil itu akan kamu
capai pada waktunya.”
”Ketahuilah bahwa Yang mengaturmu adalah Yang
Mahatahu akan waktu yang baik bagi keadaanmu. Jadi,
percayalah dengan pilihan-Nya dalam semua urusanmu,
niscaya keadaanmu akan membaik.”
301
Teladan Abadi
”Janganlah kamu terburu-buru dengan kebutuhanmu
sebelum waktunya, sehingga menyebabkan hatimu
cemas dan menyesakkan dada, kemudian rasa putus asa
mengelabuimu.”
”Ketahuilah, malu itu mempunyai kadar. Jika kadarnya
bertambah, maka itu berlebihan. Ketabahan juga mempunyai
kadar. Jika kadarnya bertambah, maka itu kecerobohan.”
”Ingatlah, setiap manusia yang bersih itu menetapi puncak,
walau akal penghuni dunia telah rusak.”
3. Abu Muhammad Abdullah bin Muhammad, seorang abid
(ahli ibadah) di Daliyah mengundang Abu Muhammad
Hasan bin Ali (al-Askari as) ke rumahnya di Sirru man ra`â
(Samara) pada tahun 255 H, supaya beliau mendiktekan
kepadanya shalawat kepada Nabi saw dan para washinya
(as) dan dia membawa kertas besar kepada beliau. Maka
beliau mendiktekan kepadanya tanpa buku (yang artinya
kira-kira demikian—penerj.):
Ya Allah, sampaikanlah shalawat kepada Muhammad
sebagaimana dia telah membawa wahyu-Mu dan
menyampaikan risalah-Mu.
Sampaikanlah shalawat kepada Muhammad sebagamana
dia telah menghalalkan halal-Mu dan mengharamkan
haram-Mu serta mengajarkan kitab-Mu (kepada umatnya).
Sampaikanlah shalawat kepada Muhammad sebagaimana
dia telah mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta
menyeru kepada agama-Mu.
Sampaikanlah shalawat kepada Muhammad sebagaimana
dia membenarkan janji-Mu dan takut dengan ancaman-Mu.
302
Hasan Askari
Sampaikanlah shalawat kepada Muhammad sebagaimana
dengannya Engkau ampuni dosa-dosa, Engkau tutupi aibaib
serta Engkau lepaskan derita-derita.
Sampaikanlah shalawat kepada Muhammad sebagaimana
dengannya Engkau tolak kesengsaraan, Engkau singkap
kedukaan dan Engkau kabulkan doa serta Engkau selamatkan
dari bala.
Sampaikanlah shalawat kepada Muhammad sebagaimana
dengannya Engkau kasihi hamba-hamba, Engkau hidupi
negeri-negeri dan Engkau kalahkan para penguasa zalim
serta Engkau binasakan para fir’aun.
Sampaikanlah shalawat kepada Muhammad sebagaimana
dengan Engkau rendahkan harta benda, Engkau jaga dari
segala teror dan Engkau remuk patung-patung berhala serta
Engkau rahmati umat manusia.
Sampaikanlah shalawat kepada Muhammad sebagaimana
Engkau mengutusnya dengan membawa sebaik-baik agama,
dengannya Engkau agungkan keimanan dan Engkau
tumbangkan berhala-berhala serta Engkau agungkan Baitul
Haram.
Sampaikanlah shalawat dan salam kepada Muhammad dan
Ahlulbaitnya yang adalah manusia-manusia pilihan.
Ya Allah, sampaikanlah shalawat kepada Amirul Mukminin Ali
bin Abi Thalib. Ia adalah saudara Nabi-Mu, washinya, teman
terkaribnya, wazirnya, gudang ilmunya, pos rahasianya,
pintu hikmahnya, juru bicara hujahnya, penyeru pada
syariatnya. khalifahnya di tengah umatnya, penyirna derita
303
Teladan Abadi
di wajahnya, penghancur kekufuran, pengusir kefasikan.
Dialah yang Engkau angkat di sisi Nabi-Mu seperti Harun
di sisi Musa.
Ya Allah, cintailah siapa yang mencintainya (Ali).
Musuhilah siapa yang memusuhinya. Berilah pertolongan
kepada siapa yang menolongnya. Hinakanlah siapa yang
menghinakannya. Kutuklah siapa yang membencinya dari
orang-orang yang hidup masa lalu dan orang-orang yang
hidup masa belakangan.
Sampaikanlah shalawat kepadanya dengan sebaik-baik
shalawat yang Engkau sampaikan atas salah seorang dari
washi-washi para nabi-Mu, wahai Tuhan semesta alam.
Ya Allah, sampaikanlah shalawat kepada ash-Shiddiqah
Fathimah yang suci. Ia adalah kekasih Nabi-Mu sang kekasih-
Mu. Ibu bagi para kekasih-Mu yang sejati. Ia yang Engkau
pilih dan yang Engkau utamakan atas semua perempuan
seluruh alam.
Ya Allah, adakanlah penuntut balas baginya terhadap orang
yang telah menzaliminya dan yang telah merendahkan
haknya. Adakanlah ya Allah, penuntut balas demi darah
putra-putranya.
Ya Allah, sebagaimana Engkau menjadikan ia ibu bagi
para imam hidayah, istri bagi pengibar panji dan mulia di
alam yang tinggi, sampaikanlah shalawat kepadanya dan
kepada Khadijah al-Kubra ibundanya dengan shalawat
yang karenanya, Engkau muliakan wajah ayahandanya,
Muhammad saw. Dengannya, Engkau sejukkan mata anak
304
Hasan Askari
keturunannya. Sampaikanlah dariku pada saat ini juga
kepada mereka sebaik-baik penghormatan dan salam.
Ya Allah, sampaikanlah shalawat kepada Hasan dan Husain.
Mereka adalah dua hamba-Mu dan dua kekasih-Mu. Dua
putra Rasul-Mu dan dua [pemuda] pemurah kasih sayang
serta dua pemuka bagi para pemuda yang menghuni surga,
dengan sebaik-baik shalawat yang Engkau sampaikan atas
salah seorang dari putra-putra para nabi dan rasul.
Ya Allah, sampaikanlah shalawat kepada Hasan putra
pemuka para washi, putra sang washi Amirul mukminin.
Salam atasmu wahai putra Rasulullah. Salam atasmu wahai
putra pemuka para washi. Aku bersaksi bahwa engkau wahai
putra Amirul Mukminin, adalah ‘tangan kanan’ Allah dan
putra tangan kanan-Nya. Engkau hidup dalam teraniaya
dan mati dengan syahid. Aku bersaksi bahwa engkau
adalah imam yang suci, pemberi dan penerima petunjuk. Ya
Allah, sampaikanlah dariku pada saat ini juga atas ruh dan
jasadnya sebaik-baik penghormatan dan salam.
Ya Allah, sampaikanlah shalawat kepada Husain bin Ali
al-Mazhlum asy-Syahid. Ia yang terbunuh oleh kaum kafir
dan terusir oleh kaum fasik. Salam bagimu wahai Aba
Abdillah. Salam bagimu wahai putra Rasulullah. Salam
bagimu wahai putra Amirul Mukminin. Dengan yakin aku
bersaksi bahwa engkau adalah kepercayaan Allah dan putra
kepercayaan-Nya. Engkau terbunuh dalam teraniaya dan
mati dengan syahid. Aku bersaksi bahwa Allah Swtlah Yang
menuntut balas untukmu dan yang menepati janji-Nya akan
305
Teladan Abadi
menolongmu dalam menghancurkan musuhmu dan dalam
meninggikan seruanmu.
Aku bersaksi bahwa engkau telah memenuhi perjanjian Allah
dan engkau berjihad di jalan-Nya serta menyembah-Nya
dengan tulus. Hingga keyakinan menemui dirimu. Semoga
Allah mengutuk umat yang telah membunuhmu. Semoga
Allah mengutuk umat yang telah menghinakanmu. Semoga
Allah mengutuk umat yang telah menghimpun orang untuk
menentangmu.
Aku berlepas diri kepada Allah Swt dari orang yang telah
mendustakanmu dan yang telah merendahkan hakmu serta
yang telah menghalalkan darahmu. Demi ayah dan ibuku,
wahai Aba Abdillah, semoga Allah melaknat pembunuhmu.
Semoga Allah melaknat penghinamu. Semoga Allah mengutuk
orang-orang yang mendengar peringatanmu namun tidak
mempedulikanmu dan tidak menolongmu. Semoga Allah
melaknat orang-orang yang menawan para perempuanmu.
Aku berlepas diri kepada Allah dari mereka itu dan orangorang
yang mengikuti mereka, yang mendukung mereka dan
membantu mereka untuk melawannya (Husain).
Aku bersaksi bahwa engkau dan para imam anak
keturunanmu adalah kalimat takwa, pintu hidayah dan
tali yang kokoh serta hujah atas seluruh penghuni dunia.
Aku bersaksi bahwa aku mengimani kalian dan meyakini
kedudukan kalian. Aku mengikuti kalian dalam esensi diriku,
dalam syariat agamaku dan dalam akhir amal dan tempat
kembaliku di dunia akhiratku.
306
Hasan Askari
Ya Allah, sampaikanlah shalawat kepada Ali bin Husain
sang pemuka kaum ahli ibadah. Ia yang telah Engkau pilih
untuk diri-Mu dan telah Engkau angkat darinya para imam
hidayah, yang mereka memberi petunjuk dengan kebenaran
dan berlaku adil. Engkau memilihnya untuk diri-Mu, Engkau
menyucikannya dari nista, Engkau memilih dan menjadikannya
sebagai seorang pemberi dan penerima petunjuk.
Ya Allah, sampaikanlah shalawat kepadanya dengan sebaikbaik
shalawat yang telah Engkau sampaikan atas seorang
dari anak keturunan para nabi-Mu, hingga sampai padanya
apa yang menyenangkan hatinya di dunia dan akhirat.
Sesungguhnya Engkau Mahamulia lagi Maha Pemurah.
Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad bin
Ali, sang pembelah dan pemilah ilmu, imam petunjuk dan
pemimpin para ahli takwa serta pilihan di antara semua
hamba-Mu.
Ya Allah, sebagaimana telah Engkau jadikan ia sebagai
bendera bagi hamba-hamba-Mu, menara bagi negeri-negeri-
Mu, gudang bagi hikmah-Mu dan penerjemah wahyu-Mu,
dan telah Engkau turunkan perintah supaya menaatinya
dan peringatan atas mendurhakainya, maka sampaikanlah
shalawat atasnya wahai Tuhanku, dengan sebaik-baik
shalawat yang telah Engkau sampaikan atas seorang dari
anak keturunan para nabi dan rasul-Mu, hamba-hamba
pilihan dan kepercayaan-Mu, wahai Tuhan seru sekalian
alam.
Ya Allah, sampaikan shalawat atas Ja’far bin Muhammad
ash-Shadiq. Ia adalah ‘kepala gudang’ ilmu, yang menyeru
307
Teladan Abadi
kepada-Mu dengan kebenaran, yang adalah cahaya nan
terang.
Ya Allah, sebagaimana telah Engkau jadikan ia sebagai
tambang firman dan wahyu-Mu, penjaga ilmu dan lisan
tauhid-Mu, pemegang urusan dan pemelihara agama-Mu,
maka sampaikanlah shalawat atasnya dengan sebaik-baik
shalawat yang telah Engkau sampaikan atas seorang dari
para kekasih dan hujah-Mu. Sesungguhnya Engkau adalah
Maha Terpuji lagi Mahamulia.
Ya Allah, sampaikanlah shalawat atas manusia terpercaya
lagi amanah, Musa bin Ja’far, hamba yang saleh lagi
menepati janji. Ia adalah cahaya yang terang, yang
bersungguh-sungguh, penuh perhitungan nan sabar atas
gangguan karena-Mu.
Ya Allah, sebagaimana ia telah menunaikan amanat dari para
pendahulunya, berupa perintah dan larangan-Mu, ia telah
mengajak pada tujuan dan menantang kaum bangsawan
dan jahat dalam menghadapi kebodohan kaumnya, duhai
Tuhanku, maka sampaikanlah shalawat kepadanya dengan
sebaik-baik dan paling sempurnanya shalawat yang telah
Engkau sampaikan atas seorang dari manusia-manusia yang
taat kepada-Mu dan yang memberi nasihat kepada hambahamba-
Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang.
Ya Allah, sampaikanlah shalawat atas Ali bin Musa,
yang telah Engkau ridhai dan dengannya Engkau ridhai
orang-orang yang Engkau kehendaki di antara semua
makhluk-Mu.
308
Hasan Askari
Ya Allah, sebagaimana Engkau telah menjadikan ia sebagai
hujah atas seluruh makhluk-Mu, penegak urusan-Mu,
penolong agama-Mu dan saksi atas hamba-hamba-Mu dan
sebagaimana dia telah memberi nasihat kepada mereka dalam
rahasia dan nyata, menyeru kepada jalan-Mu dengan hikmah
dan nasihat yang baik, maka sampaikanlah shalawat atasnya
dengan sebaik-baik shalawat yang telah Engkau sampaikan
pada seorang dari para wali dan hamba-hamba-Mu yang
terbaik di antara semua makhluk-Mu. Sesungguhnya Engkau
Maha Dermawan lagi Maha Pemurah.
Ya Allah, sampaikanlah shalawat kepada Muhammad bin
Ali bin Musa at-Taqi. Ia adalah cahaya ketakwaan, tambang
hidayah, bagian dari manusia-manusia suci dan khalifah
para washi-Mu serta pembawa wahyu-Mu yang terpercaya.
Ya Allah, sebagaimana dengannya Engkau memberi
petunjuk (yang jauh) dari kesesatan, dan keselamatan dari
kebimbangan, dan dengannya Engkau bimbing orang yang
mendapatkan petunjuk dan Engkau sucikan orang yang
menyucikan diri, maka sampaikanlah shalawat atasnya
dengan sebaik-baik shalawat yang telah Engkau sampaikan
kepada seorang dari para kekasih-Mu dan penerus mereka.
Sesungguhnya Engkau Mahamulia lagi Mahabijaksana.
Ya Allah, sampaikanlah shalawat kepada Ali bin Muhammad,
sang penerima wasiat para washi, imam para ahli takwa dan
pengganti para pemimpin agama serta hujah atas seluruh
makhluk.
Ya Allah, sebagaimana telah Engkau jadikan ia cahaya yang
menerangi kaum beriman, kemudian dia membawa kabar
309
Teladan Abadi
gembira dengan pahala-Mu yang melimpah dan peringatan
akan siksa-Mu yang pedih, ia telah memperingatkan murka-
Mu dan mengingatkan hari-hari-Mu. Ia telah menghalalkan
halal-Mu dan mengharamkan haram-Mu. Ia telah
menjelaskan syariat dan fardhu-Mu. Ia telah menganjurkan
untuk menyembah-Mu. Ia telah memerintahkan untuk taat
kepada-Mu dan melarang dari bermaksiat pada-Mu. Maka
sampaikanlah shalawat kepadanya dengan sebaik-baik
shalawat yang telah Engkau sampaikan atas seorang dari
para kekasih-Mu dan anak keturunan mereka, wahai Tuhan
seru sekalian alam.
Ya Allah, sampaikanlah shalawat atas Hasan bin Ali bin
Muhammad, hamba yang saleh, jujur lagi menepati janji.
Ia adalah cahaya yang menerangi, yang menjaga ilmu-Mu,
mengingatkan pada tauhid-Mu dan memegang urusan-Mu.
Ia adalah pengganti para pemimpin agama, yang memberi
petunjuk dan bimbingan. Ia adalah hujah atas seluruh
penghuni dunia. Maka sampaikanlah shalawat atasnya,
dengan sebaik-baik shalawat yang telah Engkau sampaikan
kepada seorang dari para kekasih dan hujah-Mu serta putraputra
para rasul-Mu, wahai Tuhan seru sekalian alam.
Ya Allah, sampaikanlah shalawat atas kekasih-Mu dan putra
para kekasih-Mu yang Engkau wajibkan supaya taat kepada
mereka dan agar menunaikan hak mereka. Telah Engkau
hilangkan nista dari mereka dan Engkau sucikan mereka
dengan sesuci-sucinya.
Ya Allah, tolonglah dia dan dengannya berikan kemenangan
bagi agama-Mu. Dengannya tolonglah para kekasih-Mu
310
Hasan Askari
dan para penolongnya serta syi’ahnya dan jadikan kami dari
golongan mereka.
Ya Allah, lindungilah dia dari keburukan setiap yang jahat
dan zalim. Lindungilah dia dari keburukan seluruh makhluk-
Mu. Jagalah dia dari bagian depan dan belakangnya, dari
samping kiri dan kanannya. Jangan sampai keburukan
menyentuh dan mengenai dirinya. Karenanya, jagalah
Rasul-Mu dan keluarga Rasul-Mu. Dengannya, tegakkan
keadilan. Bantulah ia dengan kemenangan. Tolonglah para
pembelanya. Hinakanlah para penghinanya. Hancurkanlah
para penguasa kufur. Binasakanlah kaum kafir dan munafik
serta seluruh kaum ingkar di manapun mereka berada dari
belahan timur bumi sampai baratnya, baik bagian daratan
maupun lautannya. Dengannya penuhilah bumi dengan
keadilan, jayakan agama Nabi-Mu ‘alaihi wa âlihis salâm.
Dan jadikanlah aku, ya Allah, dari golongan para
penolongnya, pembela dan pengikutnya serta syi’ahnya.
Dan tunjukkanlah padaku apa yang mereka harapkan di
sisi keluarga Muhammad dan apa yang mereka waspadai
di tengah musuh mereka, wahai Pemelihara kebenaran.
Amin!
311
Teladan Abadi
Catatan Kaki Bab IV
126 al-Manaqib, jilid 4, hal.457-458, nukilan dari kitab at-Tabdil
karya Abul Qasim al-Kufi (qaf 3).
127 Majma’ al-Bahrain ath-Tharihi, jilid 1, hal.78.
128 al-Kafi, jilid 1, hal.115 hadis 20. Dalam naskah asy-Syaibani
juga dalam Manaqib Al Abi Thalib jilid 4, hal.422.
129 Kasyf al-Ghummah, jilid 3, hal.221; Bihar al-Anwar, jilid 50,
hal.294.
130 Hadiqatu asy-Syi’ah, hal.592, dari Sayid Murtadha Razi dalam
kitabnya Bayan al-Adyan; Tabshiratu al-‘Awam wa al-Fushul
al-‘Ammah fi Hidayat al-‘Ammah dari Syekh Mufid secara
musnad; Al-Anwar an-Nu’maniyah, jilid 2, hal.293; Dzara’I
al-Bayan fi ‘Awaridh al-Lisan, hal.37.
131 Bihar al-Anwar, jilid 50, hal.281.
132 al-Manaqib, jilid 2, hal.462.
133 Merujuk pada Mu’jam Ahadits al-Imam al-Mahdi, hal.4195-
218.
134 Kamaluddin, jilid 2, hal.408.
135 Itsbat al-Hudat, jilid 3, hal.569.
136 Ghaibah ath-Thusi, hal.215.
137 al-Khara`ij, jilid 1, hal.478.
138 Kamaluddin, jilid 2, hal.424.
139 al-Kafi, jilid 1, hal.330.
140 Kamaluddin, jilid 2, hal.434.
141 Itsbat al-Hudat, jilid 3, hal.570.
142 Kamaluddin jilid 2, hal.407.
143 al-Kafi jilid 1, hal.329.
144 Kamaluddin, jilid 2, hal.418.
145 Ibid., hal. 433.
146 al-Hidayah al-Kubra, hal.68; Itsbat al-Hudat, jilid 3, hal.572.
147 Itsbat al-Washiyah, hal.221.
148 Kamaluddin, jilid 2, hal.431.
149 al-Kafi, jilid 1, hal.328.
150 Kamaluddin jilid 2, hal.435.
151 bid., hal.384.
152 Ibid., hal.454.
153 Itsbat al-Hudat, jilid 3, hal.700.
312
Hasan Askari
154 Ghaibah ath-Thusi, hal.215.
155 Kamaluddin jilid 2, hal.409.
156 Ibid.
157 Ibid., hal.524.
158 Merujuk pada Hayatu al-Imam al-‘Askari, hal.329-342.
159 Tarikh at-Tasyri’ al-Islami karya Abdul Hadi al-Fadhli, hal.194-
202.
160 Hayat al-Imam al-‘Askari karya Syekh Muhammad Jawad
ath-Thabarsi, hal. 325.
161 Bihar al-Anwar, jilid 50, yang mencakup kehidupan Imam
Jawad halaman 106, Imam Hadi halaman 216, Imam Askari
halaman 310.
162 Hayat al-Imam al-‘Askari, karya Muhammad Jawad athhabarsi
bagian X.
163 al-Fihrits karya Syekh Thusi halaman 174.
164 Tarikh at-Tasyri’ al-Islami karya Abdul Hadi al-Fadhli, hal.200-
202.
165 Ibid., hal.202-211.
166 al-Kafi jilid 1, hal.54, Hadis 10.
167 al-Ihtijaj, jilid 2, hal.260.
168 al-Ghaibah ash-Shughra karya asy-Syahid ash-Shadr,
hal.219.
169 Ibid.
* Sebagian mengartikan mawla di sini adalah Allah. Agaknya,
keduanya bisa dipakai karena ketika mawla diartikan sebagai
imam, sesungguhnya ia menaati Allah dan Rasul-Nya—
peny.
170 Tafsir al-Imam al-‘Askari, hal.141, dan dinukil dalam al-Ihtijaj
jilid 2, hal.263.
171 Merujuk pada Rijal al-Kasyi hal.467 dan 493, dan dinukil dalam
Bihar al-Anwar jilid 48, hal.251 dan dalam Safinat al-Bihar jilid
3, hal.581.
172 al-Ghaibah, hal.64, Hadis 67, dan dinukil dalam Rijal al-Kasyi,
hal.597, Hadis 1120 dan di dalamnya ada kalimat: “Telah
kunikahi mereka”, dalam hadis 1117 dikatakan: “Kemudian
bertaubat dan harta dikembalikan padanya (Imam Ridha
as), dan dalam hadis 1118 dikatakan: “Dia (Utsman bin
313
Teladan Abadi
Isa) tinggal di Kufah kemudian bimbang dan mati dalam
kebimbangan”.
173 al-Khara`ij wa al-jara`ih jilid 1, ha.452 hadis 38, dan dinukil
dalam Kasyf al-Ghummah jilid 3, hal.319.
174 Ayat ini diturunkan untuk membantah tuduhan-tuduhan
orang-orang musyrik yang mengatakan bahwa malaikatmalaikat
itu anak Allah. (Al-Quran dan Terjemahnya,
Departemen Agama)
175 al-Manaqib jilid 4, hal.461.
176 al-Ghaibah hal. 247; Bihar al-Anwar jilid 25, hal.336-337.
177 al-Manaqib jilid 2, hal.470.
178 Bihar al-Anwar, jilid 50 hal.273.
179 Ibid., hal.281.
180 Itsbat al-Washiyah , hal.239.
181 Ibid., hal. 245.
182 Ibid., hal. 246.
183 Tuhaf al-‘Uqul, hal.487-488.
184 Ibid.
185 Sya’bu al-Iman, jilid 2, hal.43 hadis 1124, dan dinukil dalam
al-Anwar al-Bahiyah karya al-Qummi hal.319.
186 al-Khara`ij wa al-Jara`ih, hal.449 hadis 35 dan menukil dari
ad-Dala`il fi Kasyf al-Ghummah, jilid 3, hal.206-207.
314
Hasan Askari
187 al-Khara`ij wa al-Jara`ih, jilid 1, hal.447 hadis 32, dan menukil
darinya dalam Kasyf al-Ghummah, jilid 3, hal.212-213.
188 al-Khara`ij wa al-Jara`ih karya Rawandi, jilid 1 hal.439, Hadis
20.
189 Manaqib âli Abi Thalib, jilid 4, hal.460-461.
190 Tarikh at-Tasyri’ al-Islami, karya Abdul Hadi, hal.198.
191
192 Hayatu al-Imam al-Hasan al-‘Askari, karya al-Qurasyi hal.95-200
dan Musnad Imam al-Hasan al-‘Askari.
193 Merujuk pada Muqaddimah Ibn Abi al-Hadid li Syarhi Nahj al-
Balaghah, mengenai Imam Ali dan ilmu-ilmu al-Quran.
194 Ats-Tsaqib fi al-Manaqib, hal. 341-342 karya al-Jorjani.
195 Ats-Tsaqib fi al-Manaqib, hal. 242; Kasyf al-Ghummah, jilid 3,
hal.209 menukil dari Dala`il al-Himyar.
196 Kasyf al-Ghummah, jilid 3, hal.210, dinukil dari Dala`il al-
Himyari.
197 Kasyf al-Ghummah, jilid 3, hal.209-210, dinukil dari Dala`il
al-Himyari.
198 Ushul al-Kafi, jilid 1, hal.508.
199 Tarikh at-Tasyri’ al-Islami, hal.198.
200 Ibid., dari Manaqib âli Abi Thalib, jilid 4, hal.457.
201 Musnad al-Imam al-‘Askari, hal.87, dari al-Kafi, jilid 1, hal.513,
hadis 27.
202 QS Thaha:125-126.
203 QS al-Maidah: 3.
204 QS asy-Syura: 23.
205 QS al-Baqarah: 143.
206 Umat Islam dijadikan umat yang adil dan pilihan, karena mereka
akan menjadi saksi atas perbuatan orang yang menyimpang
dari kebenaran baik di dunia maupun di akhirat. (Al-Qur`an
dan Terjemahnya, Departemen Agama RI)
207 QS Ali Imran: 110.
208 Bihar al-Anwar, jilid 50, hal.319-322.
209 Hayat al-Imam al-‘Askari, hal.6-78, karya Baqir Syarif al-
Qurasyi.
210 Hayat al-Imam al-Hasan al-‘Askari, hal.79 karya Baqir Qurasyi.
211 al-Kasyi, hal.580 Hadis 1089.
315
Teladan Abadi
212 al-Kasyi, hal.580, Hadis 1089; Mu’jam Rijal al-Hadits, jilid 10,
hal.232.
213 ad-Durr an-Nazhim, hal.748.
214 Hayat al-Imam al-Hasan al-‘Askari, hal.86-87.
215 Ibid., hal. 87.
216 Ad-Durr an-Nazhim, Surat 225.
217 Merujuk pada Hayat al-Imam al-Hasan al-‘Askari, karya Baqir
al-Qurasyi.
218 Al-Ihtijaj, jilid 1, hal.6.
219 Al-Ihtijaj, jilid 1, hal.8.
220 Ibid.
221 Ibid., jilid 1, hal.9.
222 Ibid.
223 Ibid.
224 Al-Kâfî, jilid 1, hal.95; at-Tauhid, hal.108.
225 Ibid.
226 Bihar al-Anwar, jilid 78, hal.338.
227 Kamaluddin, hal.222.
228 Ibid.
229 QS al-Anbiya: 69.
230 Al-Kafi, jilid 1, hal.509.
231 QS al-Furqan: 7-8.
232 Mereka mengingkari wahyu dan kenabian Muhammad saw.
Karena, menurut pikiran mereka, seorang yang diutus menjadi
Rasul itu hendaklah seorang yang kaya raya dan berpengaruh.
(Al-Qur`an dan Terjemahnya, Departemen Agama)
233 QS az-Zukhruf: 31.
234 QS al-Isra: 90-93.
235 QS ath-Thur: 44.
236 QS al-‘Alaq: 6-7.
237 QS al-Furqan: 7-8.
238 QS al-Isra: 48.
239 Maksudnya: kalau Allah menghendaki niscaya dijadikannya
untuk Muhammad saw surga-surga dan istana-istana seperti
yang bakal diperolehnya di akhirat. Tetapi Allah tidak
menghendaki yang demikian agar manusia itu tunduk dan
beriman kepada Allah bukanlah karena dipengaruhi oleh
316
Hasan Askari
benda, melainkan berdasarkan kepada bukti-bukti dan dalildalil
yang nyata. (Al-Qur`an dan Terjemahnya,-Departemen
Agama)
240 QS al-Furqan: 10.
241 QS Hud: 12.
242 Maksudnya: untuk menerangkan bahwa Muhammad saw itu
seorang nabi. (Al-Qur`an dan Terjemahnya, Departemen
Agama)
243 Maksudnya: kalau diturunkan kepada mereka malaikat, sedang
mereka tidak juga beriman, tentulah mereka akan diazab
Allah seketika, sehingga mereka binasa semuanya. (Al-Qur`an
dan Terjemahnya,-Departemen Agama)
244 Maksudnya: kalau Allah mengutus seorang malaikat sebagai
rasul, tentu Allah mengutusnya dalam bentuk seorang
manusia, Karena manusia tidak dapat melihat malaikat, dan
tentu juga mereka akan berkata: Ini bukan malaikat, Hanya
manusia seperti kami juga, jadi mereka akan tetap ragu-ragu.
(Al-Qur`an dan Terjemahnya,-Departemen Agama)
245 QS al-An’am: 8-9.
246 QS al-Kahfi: 110.
247 QS al-Furqan: 9.
248 Mereka mengingkari wahyu dan kenabian Muhammad saw,
karena menurut pikiran mereka, seorang yang diutus menjadi
Rasul itu hendaklah seorang yang kaya raya dan berpengaruh
(Al-Qur`an dan Terjemahnya, Departemen Agama).
249 QS az-Zukhruf: 31-32.
250 QS az-Zukhruf: 32.
251 QS al-Isra: 91.
252 QS al-Isra: 93.
253 QS al-An’am: 75.
254 Musnad Imam al-Hasan al-‘Askari, hal.189-200 dari Tafsir yang
dinisbatkan kepada beliau (as) Surah al-Baqarah 108.
255 Maksudnya ialah Nabi Muhammad saw. sering melihat ke
langit mendoa dan menunggu-nunggu turunnya wahyu yang
memerintahkan beliau menghadap ke Baitullah. (Al-Qur`an
dan Terjemahnya,-Depag)
256 QS al-Baqarah: 144.
317
Teladan Abadi
257 Di waktu Nabi Muhammad saw berada di Mekah di tengahtengah
kaum musyirikin, beliau berkiblat ke Baitul Maqdis.
tetapi setelah 16 atau 17 bulan Nabi berada di Madinah di
tengah-tengah orang Yahudi dan Nasrani beliau disuruh oleh
Tuhan untuk mengambil Ka’bah menjadi kiblat, terutama
sekali untuk memberi pengertian bahwa dalam ibadat shalat
itu bukanlah arah Baitul Maqdis dan ka’bah itu menjadi
tujuan, tetapi menghadapkan diri kepada Tuhan. untuk
persatuan umat islam, Allah menjadikan ka’bah sebagai kiblat.
(Al-Qur`an dan Terjemahnya,-Depag)
258 Musnad al-Imam al-Hasan al-‘Askari, hal.209-214.
259 al-Kafi, jilid 3, hal.60.
260 al-Istibshar, jilid 1, hal.118, Bab 17, Hadis 3.
261 al-Kafi, jilid 3, hal.339, hadis 10; al-Istibshar, jilid 1, hal.385, bab
225, hadis 1.
262 al-Istibshar, jilid 1, hal.385, Bab 255, hadis 2.
263 Ibid., hal.383, Bab 223, Hadis 22.
264 al-Kafi, jilid 4, hal.155, hadis 6; al-Istibshar, jilid 1, hal. 463, bab
287, hadis 12.
265 al-Kafi, jilid 4, hal.155, hadis 6; al-Istibshar, jilid 1, hal.463 bab
287 hadis 12.
266 al-Kafi, jilid 4, hal.124 hadis 5; al-Istibshar, jilid 2, hal.108 bab
57 hadis 4.
267 al-Kulaini dalam al-Kafi, jilid 4, hal.181 hadis 6; Man La
Yahdhuruh al-Faqih, jilid 3, hal.43 bab 21 hadis 3.
268 al-Khishal, hal.59, Bab-bab Sepuluh.
269 Man La Yahdhuruh al-Faqih, jilid 2, hal.117.
270 al-Kafi, jilid 1, hal. 409, hadis 6.
271 at-Tahdzib, jilid 4, hal.139 hadis 16.
272 Al-Kafi, jilid 4, hal.310, Hadis 2; Man La Yahdhuruh al-Faqih, jilid
2, hal. 72 Bab 166, Hadis 3.
273 al-Kafi, jilid 5, hal. 447, Hadis 18; Man La Yahdhuruh al-Faqih,
jilid 3, hal. 306, Bab 147, Hadis 9.
274 Man La Yahdhuruh al-Faqih, jilid 3, hal. 328, Bab 159, Hadis
12.
275 Al-Kafi, jilid 7, hal. 402; Man La Yahdhuruh al-Faqih, jilid 3,
hal.153, Bab 73, Hadis 10.
318
Hasan Askari
276 Al-Kafi, jilid 7, hal. 394, Hadis 3; Man La Yahdhuruh al-Faqih,
jilid 3, hal. 43, Bab 33, Hadis 1.
277 Ibid.
278 Al-Istibshar, jilid 4, hal.113, Bab 68, Hadis 9.
279 Al-Kafi, jilid 7, hal. 46, Hadis 1; Man La Yahdhuruh al-Faqih, jilid
4, hal.151, Bab 99 Hadis 1; al-Istibshar, jilid 4, hal.118 Bab
73, Hadis 1.
280 Kulaini dalam al-Kafi, jilid 7, hal.37 hadis 34, diriwayatkan
oleh ash-Shaduq dalam al-Faqih, jilid 4, hal.176 Bab 128; al-
Istibshar, jilid 4, hal.100, Bab 62 hadis 2.
281 Al-Kafi jild 7, hal.85, Hadis 2; Kasyf al-Ghummah, jilid 3,
hal.210.
282 Diriwayatkan oleh Kulaini dalam al-Furu’jilid 5, hal.293, hadis
5; Man La Yahdhuruh al-Faqih jilid 3, hal.150, Bab 71, Hadis
10.
283 Man La Yahdhuruh al-Faqih, jilid 3, hal.106, hadis 88.
284 At-Tahdzib, jilid 7, hal.90, hadis 24.
285 At-Tahdzib, jilid 7, hal.138, Hadis 84.
286 Al-Kafi, jilid 5, hal. 239 hadis 9; Man La Yahdhuruh al-Faqih, jilid
3, hal.94 Hadis 3.
287 Man La Yahdhuruh al-Faqih, jilid 3, hal.163, Bab 76, Hadis 14.
288 Al-Kafi, jilid 6, hal.35, Hadis 3; Man La Yahdhuruh al-Faqih, jilid
3, hal.214 Bab 149 Hadis 17.
[
Jumlah Kunjungan: 161]
 |