|
mohd taqi 4
Masa yang dilalui Imam Jawad pada periode khilafah
Muتtasham tidaklah lama, yakni kurang dari dua tahun.
Masa tersebut berakhir dengan syahidnya Imam di bawah
sistem kekuasaan zalim itu. Berikut ini pembahasan mengenai
hubungan antara Imam Jawad as dengan Muتtasham.
TELADAN ABADI
akan melihat pemberontakan-pemberontakan yang muncul
pada masa Muتtasham.
Imam Jawad as dan Mu’tasham
Masa yang dilalui Imam Jawad pada periode khilafah
Muتtasham tidaklah lama, yakni kurang dari dua tahun.
Masa tersebut berakhir dengan syahidnya Imam di bawah
sistem kekuasaan zalim itu. Berikut ini pembahasan mengenai
hubungan antara Imam Jawad as dengan Muتtasham.
Menarik Imam Jawad ke Baghdad
Muتtasham merasa khawatir dengan jauhnya tempat
tinggal Imam Jawad di Madinah dari pusat kekuasaannya.
Karena itu, Muتtasham memutuskan untuk memindahkan
Imam ke Baghdad. Hal ini dilakukan agar Imam berada tidak
jauh darinya sehingga Muتtasham dapat mengawasi aktivitas
Imam Jawad. Imam Jawad tiba di Baghdad pada dua malam
terakhir Muharram 220 H. Kemudian, Imam syahid di sana
pada Zulqaتdah tahun yang sama.197
Pembunuhan terhadap Imam Jawad as
Eksistensi Imam Jawad selalu saja dipandang sebagai
ancaman terhadap monarki Abbasiyah. Hal ini karena Imam
merupakan simbol pemersatu dan pemimpin umat. Karena
itulah, Muتtasham memutuskan untuk mengakhiri hidup Imam
meskipun tindakan ini tidak mampu menghilangkan pengaruh
Imam Jawad terhadap gerakan-gerakan revo lusioner umat.
/
158
MUHAMMAD JAWAD
Para sejarahwan meriwayatkan dari Zarqan, sahabat
Ibnu Abi Du`ad, hakim pada masa Muتtasham, yang berkata,
„Pada suatu hari Ibnu Du`ad pulang dari istana Muتtasham
dalam keadaan murung. Aku bertanya mengapa demikian.
Ia menjawab, آHari ini aku menyesali pengabdian dua puluh
tahunku kepada Muتtasham.ت
آMengapa begitu?ت tanyaku.
آIni karena Abu Jaتfar Muhammad bin Ali bin Musa
(Jawad) hadir di hadapan Muتtasham,ت jawabnya.
آBagaimana kejadiannya?ت tanyaku lagi.
Ia bercerita, آAda seorang pencuri mengakui perbuatannya.
Khalifah menanyakan hukuman atasnya. Maka fukaha
berkumpul di majelis itu dan hadir pula Muhammad bin Ali
(Imam Jawad). Khalifah bertanya kepada kami, آManakah
yang harus dipotong dari tangannya?ت
آDari tulang pangkal jari-jari (pergelangan tangan),ت
jawabku.
آApa dalilnya?ت tanya Khalifah.
Aku menjawab, آKarena tangan adalah jari-jari dan
telapak hingga ke tulang pangkal jari-jari. Ini persis seperti
firman Allah dalam masalah tayammum:
sapulah mukamu dan tanganmu...
Dan, sejumlah orang sepakat denganku.ت
159
/
TELADAN ABADI
Kelompok yang lain berkata, آYang wajib dipotong ialah
dari siku.ت
آApa dalilnya atas itu?ت tanya Khalifah
Mereka menjawab, آKarena Allah berfirman:
…tanganmu sampai dengan siku…
Ini menunjukkan bahwa dalam membasuh, batas tangan
adalah siku.ت
Khalifah menoleh kepada Muhammad bin Ali (Imam
Jawad) dan berkata, آBagaimana menurutmu wahai Abu
Jaتfar?ت
آOrang-orang sudah menjawabnya wahai Amirul Mukminin,ت
katanya.
آLepaskan dariku apa yang telah mereka katakan!
Sekarang apa pendapatmu?ت desak Khalifah.
Abu Jaتfar berkata, آMaafkan aku soal ini wahai Amirul
Mukminin.ت
آAku bersumpah demi Allah karenamu jika kamu
memberitahu pendapatmu!ت kata Khalifah.
Ia mengungkapkan, آJika Anda telah bersumpah demi
Allah karenaku, maka aku akan menyampaikan bahwa
mereka menyalahi sunnah (syariat). Hukum potong tangan
itu harus dari pangkal jari-jari tanpa telapak tangan.ت
آApa dalilnya?ت tanya khalifah.
/
160
MUHAMMAD JAWAD
Ia menjawab, آSabda Rasulullah: آSujud dengan tujuh
anggota: wajah, kedua tangan, kedua lutut, dan kedua kaki.ت
Jadi jika tangannya dipotong dari tulang pangkal jari-jari
tangan (pergelangan tangan) dan siku maka tiada lagi tangan
untuk bersujud. Allah Swt berfirman:
Sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah.
Yakni, dengan tujuh anggota ini kita bersujud.
Maka janganlah kamu menyembah seseorang pun di
dalamnya selain (menyembah) Allah.
Kepunyaan (hak) Allah-lah bahwa telapak tangan tidak
boleh dipotong.ت
Muتtasham kagum dengan jawaban itu dan memerintahkan
supaya tangan si pencuri itu dipotong dari pangkal jari-jari
tangan tanpa telapak tangan.
Ibn Abi Du`ad berkata, آKiamatlah bagiku! Sampaisampai
aku berharap mati saja. Tiga hari kemudian aku
menghadap Muتtasham. Aku menyampaikan bahwa nasehat
bagi Amirul Mukminin adalah kewajibanku dan bahwa aku
bisa masuk neraka karenanya.ت
آApakah itu?ت tanya Khalifah.
Aku menyampaikan bahwa jika mengumpulkan fukaha
dan ulama di dalam majelis untuk satu urusan agama, maka
seorang amirul mukminin akan bertanya kepada mereka
161
/
TELADAN ABADI
tentang hukum, lalu mereka menjawab apa yang mereka
ketahui. Hadir di majelis khalifah itu, para keluarga,
pimpinan, menteri, dan sekretarisnya. Khalayak menyimak
dari balik pintu. Kemudian pendapat-pendapat mereka
semua (fukaha dan ulama itu) diabaikan karena adanya
pendapat seorang lelaki yang telah menyadarkan umat dengan
kepemimpinannya. Lalu umat mengklaim bahwa dia lebih
layak daripada khalifah dengan kedudukannya. Kemudian
lelaki itu akan memerintah dengan pemerintahannya tanpa
hukum fukaha!
Wajah khalifah berubah dan menjadi waspada setelah
aku memperingatkannya. آSemoga Allah membalas kebaikan
dari nasehatmu,ت ucap Khalifah.
Kemudian pada hari keempat, ia menugaskan seorang
menteri untuk mengundang Imam Jawad ke rumah menteri
itu. Maka, menteri itu pun mengundangnya tetapi Imam Jawad
tidak menjawab undangan itu. Imam berkata, آAnda sudah tahu
bahwa aku tidak akan menghadiri majelis kalian.ت
Menteri itu menyampaikan, آSaya mengundang Anda
untuk makan. Saya ingin Anda mengenakan baju saya dan
memasuki rumah saya supaya saya mendapatkan keberkahan.
Fulan bin fulan, seorang menteri khalifah, ingin bertemu
dengan Anda.ت
Maka Imam Jawad pun pergi ke rumahnya. Ketika
makan, Imam merasakan sesuatu yang berbeda pada makanan
/
162
MUHAMMAD JAWAD
itu (racun). Imam lalu meminta tunggangannya. Menteri itu
meminta supaya Imam menginap.
Imam Jawad menjawab, آKeluarnya aku dari rumahmu
adalah hal yang baik bagimu.ت
Setelah itu, pada siang dan malamnya, Imam tidak
berselera makan hingga meninggal dunia.ت‰200
Pada hakikatnya, Imam Jawad telah menyadari kesyahidan
nya setelah memenuhi undangan itu. Diriwayatkan
dari Ismail bin Mahran, „Ketika Abu Jaتfar dikeluarkan dari
Madinah menuju Baghdad, pada pertama kali kepergiannya,
aku berkata saat beliau berangkat, آTuanku, aku
mengkhawatirkan Anda dalam hal ini. Kepada siapa urusan
ini diserahkan setelah Tuan?ت
Imam berpaling kepadaku dengan tersenyum lalu berkata,
آKepergian ini bukanlah seperti yang engkau duga.ت
Kemudian, ketika Muتtasham mengundang beliau, aku
menghadap dan berkata kepada beliau, آTuanku, Anda akan
pergi lalu kepada siapa urusan ini diserahkan setelah Anda?ت
Imam menangis hingga jenggotnya basah. Kemudian,
Imam menoleh kepadaku dan berkata, „Pada perjalanan
kali ini, aku khawatir sesuatu terjadi terhadapku. Urusan
(kepemimpinan) setelahku ada pada putraku, Ali.‰ت201
Muتtasham telah mempelajari banyak cara untuk mengakhiri
hidup Imam Jawad dengan efektif dan risiko yang
minim. Ia tidak menemukan cara terbaik selain daripada
163
/
TELADAN ABADI
adanya faktor Ummul Fadhl, putri Makmun dan istri Imam,
yang dapat melakukan perkara besar ini. Dialah yang mampu
melakukan pembunuhan dengan tipu daya terhadap Imam
tanpa menimbulkan kegaduhan di tengah umat. Dua hal yang
dimanfaatkan Muتtasham pada pribadi Ummul Fadhl adalah:
1-Eksistensinya yang secara nasab bertalian dengan
garis penguasa. Dia adalah putri Makmun dan kemenakan
Muتtasham sendiri. Karena itu, kemungkinan Ummul Fadhl
untuk tunduk kepada pengaruh Muتtasham sangatlah besar.
2-Kecemburuannya terhadap Imam karena beliau lebih
mengutamakan istri yang lain sementara dia sendiri tidak
melahirkan bagi Imam seorang anak pun. Imam dikaruniai
anak, yakni Ali Hadi as, dari istri yang lain.
Masalah kecemburuan ini diketahui orang kebanyakan.
Karena itu, para sejarahwan mengatakan, „Orang-orang
menyampaikan bahwa Ummul Fadhl menulis surat dari
Madinah kepada ayahnya dan mengadukan suaminya, Abu
Jaتfar (Imam Jawad), bahwa, آAku dimadu dan aku cemburu.ت
Makmun membalas suratnya dengan mengatakan,
آPutriku, kami tidak menikahkan engkau dengan Abu Jaتfar
untuk mengharamkan yang halal baginya! Karena itu setelah
ini, janganlah engkau ulangi apa yang telah kukatakan.ت‰202
Periode Muتtasham pun tidak kosong dari berbagai
intimidasi yang dilakukan para pendukung sang penguasa
terhadap Imam. Di antaranya adalah yang dilakukan Umar
bin Faraj Rakhji, seorang pejabat rezim Abbasiyah. Satu
/
164
MUHAMMAD JAWAD
contohnya adalah yang diriwayatkan para sejarahwan dari
Muhammad bin Sanan yang berkata, „Aku menemui Abu
Hasan (Imam Hadi as·putra Imam Jawad). Lalu, Imam
Hadi berkata, آWahai Muhammad bin Sanan, gerangan
apakah yang terjadi dengan keluarga Faraj?ت
آUmar (bin Faraj) telah mati,ت jawabku.
آAlhamdulillah atas yang demikian,ت kata Imam. Hingga
24 kali Imam mengucapkan hal itu. Kemudian Imam berkata,
آTidakkah kamu tahu apa yang telah dia katakan kepada
ayahku, Muhammad bin Ali?ت
آTidak,ت kataku.
Imam Hadi berkata, آUmar bin Faraj telah menuding
ayahku dengan mengatakan, آKukira kamu sedang mabuk!ت
Maka ayahku (Imam Jawad) berkata:
آYa Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku
sedang berpuasa karena-Mu. Maka timpakan kepadanya
ketakutan dan kehinaan.ت
Demi Allah, setelah beberapa hari, semua milik Umar
pun diserang hingga tak tersisa sedikit pun. Kemudian Umar
ditangkap dan mati sebagai tawanan.ت‰203
Kesyahidan Imam Jawad as
Kami telah membicarakan tentang motivasi-motivasi
Muتtasham dalam membunuh Imam Jawad as serta memilih
Ummul Fadhl untuk melakukan kejahatan ini.
165
/
TELADAN ABADI
Faktor-faktor Muتtasham memanfaatkan Ummul Fadhl
dan bentuk provokasinya hingga Ummul Fadhl berani
mengambil risiko untuk membunuh Imam Jawad as diilhami
dari besarnya kecemburuan Ummul Fadhl kepada Imam
Jawad. Pada masa ayahnya berkuasa (Makmun), Ummul
Fadhl pernah berupaya melibatkan ayahnya untuk membunuh
(percobaan pembunuhan terhadap) Imam Jawad.204
Abu Nashr Hamadani berkata, „Hakimah bin Muhammad
bin Ali bin Musa bin Jaتfar, bibi Abu Muhammad Hasan bin
Ali, telah berkata kepadaku, „Ketika Muhammad Jawad bin
Ali Ridha syahid, aku mendatangi isterinya, Ummu Isa205 binti
Makmun. Aku menyampaikan perasaan berduka kepadanya.
Aku melihatnya sangat sedih karena wafatnya Imam Jawad.
Aku khawatir ia tak akan kuat menanggung musibah yang
dialaminya ini. Ketika kami membicarakan ihwal kemurahan
hati, akhlak, kemuliaan, keikhlasan, keagungan, dan karomah
Imam, Ummu Isa berkata, آMaukah engkau kuberitahu
mengenai sesuatu yang luar biasa dan sesuatu yang lebih
besar daripada penilaian mengenainya (Imam Jawad)?ت
آApakah itu?ت tanyaku.
Ia berkata, آAku telah banyak menipunya dan selalu
mengawasinya. Mungkin saja dia mengetahui hal itu. Aku
pernah mengatakan ini kepada ayahku tetapi ayah me ngatakan,
آPutriku, bersabarlah! Dia itu bagian dari Rasulullah
saw.ت Pada suatu hari, ketika aku sedang duduk, seorang
/
166
MUHAMMAD JAWAD
budak perempuan datang dan mengucapkan salam. Aku pun
bertanya, آSiapakah kamu?ت
Perempuan itu menjawab, آAku adalah budak anak
keturunan Ammar bin Yasir. Aku adalah istri Abu Jaتfar
Muhammad (Imam Jawad) bin Ali Ridha, suamimu!ت
Maka aku pun dirasuki rasa cemburu yang tak dapat
kutahan. Ingin rasanya aku pergi jauh. Hampir saja setan
menjerumuskanku untuk berbuat buruk terhadap perempuan
itu. Namun, aku dapat menahan emosi. Aku bermurah hati
kepadanya. Ketika perempuan itu keluar dari tempatku,
aku bangkit dan menemui ayahku. Aku melaporkan hal ini
kepadanya sementara ayahku dalam keadaan mabuk berat. Ia
berkata, آHai pelayan, ambilkan aku pedang.ت Pedang diberikan
kepadanya lalu dia menaiki tunggangannya sambil mengatakan.
آDemi Allah, aku sungguh akan membunuhnya!ت
Melihat kejadian ini, aku mengucapkan, آInnâ lillâhi
wa innâ ilaihi râji’ûn! Apa yang kamu lakukan terhadap
diriku dan suamiku.ت Aku memukuli wajahku. Ayahku
mendatanginya dan memukulnya dengan pedang hingga
memotong (tubuh)nya.
Kemudian dia keluar dari tempatnya dan aku berlari di
belakangnya. Aku tidak tidur pada malam itu. Ketika siang,
aku menemui ayah dan bertanya, آTahukah Anda apa yang
telah Anda lakukan semalam?ت
آApa yang telah aku lakukan?ت tanyanya.
167
/
TELADAN ABADI
Aku menjawab, آKamu telah membunuh putra Imam
Ridha (Imam Jawad)!ت
Matanya berkaca-kaca dan jatuh pingsan. Kemudian
setelah siuman, ia berkata, آCelaka, apa yang kamu katakan?ت
آYa benar! Demi Allah ayah, Anda mendatanginya dan
memukulnya dengan pedang hingga membunuhnya.ت
Ia sangat terguncang dan berkata, آPanggilkan Yasir!ت
Maka Yasir si pelayan datang. Makmun melihatnya dan
berkata, آCelaka! Apa yang dikatakan putriku ini?ت
Yasir menjawab, آDia benar wahai Amirul Mukminin!ت
Ayah memukuli dada dan pipinya lalu mengatakan, آInnâ
lillâhi wa innâ ilaihi râji’ûn! Demi Allah, tamatlah sudah
riwayat kami! Tersingkaplah sudah keburukan kami hingga
selamanya! Celaka hai Yasir! Dengarkan berita tentang dia
dan cepat beritahu aku! Diriku hampir kiamat!ت
Maka Yasir pergi sedangkan aku (Ummul Fadhl) memukuli
wajahku sendiri. Ketika kembali, Yasir berkata, آKabar
gembira wahai Amirul Mukminin!ت
آKabar gembira apa yang kaubawa?ت tanya Makmun.
Ia menjawab, آAku telah menemuinya saat dia sedang
duduk mengenakan gamis dan bersiwak. Aku mengucapkan
salam kepadanya dan aku mengatakan, آWahai putra
Rasulullah, aku ingin Anda memberikan baju Anda ini kepada
saya untuk saya pakai shalat dan mengambil berkahnya.ت
/
168
MUHAMMAD JAWAD
Aku cuma ingin melihat dirinya dan tubuhnya, apakah ada
luka karena pedang. Demi Allah, dia seperti gading yang
kekuning-kuningan. Tidak ada luka padanya.ت
Makmun menangis panjang dan kemudian berkata, آTak
ada lagi yang seperti ini. Ini merupakan pelajaran bagi orangorang
dahulu dan yang akan datang.ت
Ia berkata lagi, آHai Yasir, aku menaiki tunggangan,
membawa pedang, dan menemuinya. Saat itu, aku mengingatnya
hingga aku keluar darinya. Aku tidak mengingat
apa pun kecuali dia. Aku tidak ingat kapan aku kembali
ke tempatku dan bagaimana aku bisa pergi kepadanya?
Semoga Allah mengutuk anak perempuan ini. Datangilah
dia! Katakan bahwa ayahmu berkata kepadamu, آDemi
Allah, jika kamu mendatangiku setelah hari ini atau kamu
keluar rumah tanpa seizinnya (suami) maka aku pasti akan
menyiksamu karenanya.ت
Kemudian dia (Makmun) mengambil hati putra Imam
Ridha dan menyampaikan salam kepadanya. Dibawakan
kepadanya seribu dinar akibat kejadian semalam. Imam
Jawad meminta agar Bani Hasyim masuk dan mereka
mengucapkan salam kepadanya. Yasir berkata, آAku juga ikut
masuk bersama mereka. Aku mengucapkan salam kepadanya.
Kutaruh uang di hadapannya dan menyodorkan uang
kepadanya. Ia melihatnya sesaat kemudian tersenyum.ت
Beliau (Imam Jawad as) berkata, „Hai Yasir, beginilah
(beda) antara kami dan dia (Makmun) sampai-sampai
169
/
TELADAN ABADI
dia menyerangku. Meskipun dia mengetahui bahwa aku
mempunyai penolong dan pemisah antara aku dan dia.‰
Yasir berkata, „Wahai putra Rasulullah! Jauhilah dan
kesampingkanlah celaan ini. Demi Allah dan kebenaran
kakekmu, Rasulullah, ia (Makmun) tidak sadar sama
sekali saat itu. Dia juga tidak tahu di mana bumi Allah
tetapi sungguh bernazar kepada Allah dan berjanji untuk
tidak akan mabuk lagi setelah ini selamanya. Karena yang
demikian itu termasuk perangkap setan. Jika Anda wahai
putra Rasulullah mendatanginya, janganlah mengingatkan
sesuatu terhadapnya dan janganlah Anda mencelanya.‰
„Itulah niat dan pandanganku, demi Allah,‰ jawab Imam
Jawad.
Kemudian dia berdoa, memakai pakaian, dan bangkit
bersama semua orang. Dia menemui Makmun. Ketika dia
datang, Makmun berdiri dan memeluknya serta menyambutnya
dengan gembira. Tiada seorang pun yang boleh masuk
menemui Makmun dan dia berbicara serta meminta saran
kepada Imam. Setelah itu, Abu Jaتfar Muhammad bin Ali
beseru, „Wahai amirul mukminin!‰
„Ya,‰ jawab Makmun.
„Aku mempunyai nasehat untukmu, maka terimalah!‰
„Dengan rasa syukur, apakah itu wahai putra Rasulullah?‰
Imam berkata, „Aku ingin kamu keluar di malam hari
karena aku tidak merasa aman (dari apa yang mungkin
/
170
MUHAMMAD JAWAD
terjadi) terhadapmu dari manusia yang berbalik. Aku
mempunyai perjanjian yang dapat menjaga dirimu.
Dengannya, kamu dapat terhindar dari segala keburukan,
cobaan, kesulitan, kehancuran, dan gangguan sebagaimana
Allah menyelamatkanku darimu semalam. Seandainya
pasukan Romawi dan Turki berhadapan denganmu, maka
semua penduduk bumi berkumpul untuk mencelakaimu dan
menundukkanmu. Mereka tidak akan bisa berbuat apa-apa
dengan izin Allah yang Mahaperkasa. Apakah kamu ingin
aku mengirimkannya kepadamu supaya kamu terjaga dari
semua yang telah kusebutkan itu?‰
„Ya, tuliskan yang demikian itu dan kirimkan kepadaku!‰
„Pasti,‰ jawab Imam.
Yasir berkata, „Pagi harinya, Abu Jaتfar mengutusku dan
mendoakanku. Beliau membacakan doa yang tertera di kulit
kijang. Lalu beliau menulis kesepakatan itu dengan tulisan
tangan beliau.‰
Kemudian beliau berkata, „Hai Yasir, bawalah ini kepada
amirul mukminin. Katakan kepadanya, supaya dia membuat
batangan dari perak untuk kulit tersebut yang tertulis di
permukaannya setelah itu. Jika mau mengikatnya di lengan,
maka dia mengikatnya di lengan kanan. Hendaklah dia
mengambil wudu yang baik lalu shalat empat rakaat. Setiap
rakaat membaca sekali surah al-Fatihah, tujuh kali Ayat
Kursi, tujuh kali ayat syahidallâhu⁄206, tujuh kali surah
Wasy-syamsi wa dhuhâhâ(asy-Syams), tujuh kali surah
171
/
TELADAN ABADI
Wal-layli idzâ yaghsyâ(al-Layl), dan tujuh kali surah Qul
huwallâhu ahad (al-Ikhlas).
Usai shalat, ikatlah di lengan kanan ketika menghadapi
cobaan-cobaan berat. Dengan daya dan kekuatan Allah, maka
dia akan selamat dari semua yang ditakutinya. Hendaknya ia
tidak membacanya di waktu munculnya bulan pada bintang
Scorpio. Jika dia berperang dengan bangsa Romawi dan raja
mereka, dengan izin Allah dan berkah hiriz ini, maka dia
akan menang atas mereka.‰
Diriwayatkan bahwa ketika mendengar dari Abu Jaتfar
semua keterangan tentang hiriz ini, Makmun pun memerangi
bangsa Romawi dan Allah memenangkannya atas mereka dan
memperoleh harta rampasan dari mereka·dengan izin Allah.
Ia tidak pernah lepas dari hiriz tersebut saat perang dan Allah
dengan kehendak-Nya memberi kemenangan kepadanya.
Sesungguhnya Dialah pemilik semua kekuatan ini.207
Para sejarahwan mengatakan, „Ummul Fadhl melakukan
kejahatannya terhadap Imam Jawad bersama Muتtasham.‰
Diriwayatkan bahwa Muتtasham melakukan tipuan
dalam membunuh Abu Jaتfar (Imam Jawad). Ia menyarankan
putri Makmun supaya meracuni Imam karena mengetahui
kecemburuan Ummul Fadhl yang besar terhadap Imam.
Ummul Fadhl menerima saran itu. Ia menaruh racun dalam
anggur dan meletakkannya di hadapan Imam. Ketika beliau
memakannya, Ummul Fadhl menyesal dan menangis.
/
172
MUHAMMAD JAWAD
Imam berkata, „Kenapa kamu menangis? Demi Allah, Dia
akan mencambukmu dengan kefakiran yang tak terbenahi
dan bala yang tak terhalangi.‰
Kemudian Ummul Fadhl mati karena penyakit yang
mengerogoti tubuhnya. Untuk menanggulangi sakit yang
dideritanya, ia mengeluarkan harta dan semua yang dimilikinya
sampai ia membutuhkan pertolongan orang lain.208
Dampak racun tersebut sangat berat bagi Imam hingga
beliau menghembuskan nafas terakhir dengan lisan yang
terus berzikir kepada Allah Swt. Dengan kesyahidan beliau,
padamlah sinar imamah dan kepemimpinan suci dalam Islam.
Imam Jawad syahid di tangan Muتtasham Abbasi,
penguasa zalim pada masa beliau. Kesyahidan beliau menutup
lembaran risalah Islam yang menerangi pikiran dan mengangkat
menara ilmu di muka bumi ini.
Persiapan bagi Jenazah dan Pemakaman
Jasad Imam Jawad dipersiapkan, dimandikan, dan
dikafani. Watsiq dan Muتtasham datang dan menshalati
beliau.209 Jasad agung itu di bawa ke kuburan Quraisy.
Hadir khalayak yang mengitari jasad suci itu dengan
penuh sesak. Hari itu adalah hari yang tak pernah terlihat
sebelumnya di Baghdad. Puluhan ribu orang berdesakdesakan
dengan arak-arakan dalam duka, menyebut-nyebut
keutamaan Imam, dan meratapi beliau. Duka besar telah
173
/
TELADAN ABADI
diderita muslimin. Mereka kehilangan Imam Jawad. Jasad
suci tersebut disemayamkan dekat makam kakeknya yang
agung, Imam Musa bin Jaتfar as. Mereka mengebumikan
jenazah beliau. Mereka sungguh mengebumikan bersama
beliau nilai-nilai kemanusiaan dan semua yang diagungkan
manusia berupa suri teladan yang mulia.210
Diriwayatkan dari Abu Jaتfar Masyhadi dengan isnadnya
dari Muhammad bin Radiyah dari seorang murid Abu
Hasan (Imam Hadi as) yang berkata, „Pada suatu hari, Imam
Hadi berada di hadapanku sedang membaca sesuatu di
atas papan. Ketika itu papan jatuh dari tangan beliau dan
beliau berdiri dalam kekhawatiran. Beliau mengucapkan,
آInna lillahi wa inna ilahi raji’un. Demi Allah ayahku telah
meninggal dunia!ت
آDari mana Anda tahu?ت tanyaku.
آDari keagungan Allah ada sesuatu yang tidak kumengerti,ت
jawab beliau.
آTelah meninggal!ت ucapku.
Beliau berkata, آTinggalkanlah ini, izinkan aku masuk
rumah. Kemudian aku akan menemuimu dan tanyakanlah
ayat-ayat al-Quran jika kamu mau, maka aku akan
menerangkan kepadamu dengan hapalan.ت
Lalu beliau masuk rumah dan menahan pintu sambil
berkata, آtidak boleh siapa pun menemuiku sampai aku
menemui kalian.ت
/
174
MUHAMMAD JAWAD
Kemudian beliau keluar dalam keadaan berubah seraya
mengucapkan, آInna lillahi wa inna ilahi raji’un! Demi Allah,
ayahku telah meninggal dunia!ت
آTelah meninggal, tuanku!ت kataku.
آYa, aku bertanggung jawab memandikan dan mengafani
beliau karena yang demikian itu tidak akan dilakukan oleh
selain aku.ت
Kemudian beliau berkata kepadaku, آTinggalkanlah dulu
yang ini dan tanyakan ayat-ayat al-Quran jika kamu mau,
maka akan aku menerangkan (tafsirnya) kepadamu dan
hapalkanlah!ت
آSurah al-Aتraf,ت kataku.
Maka setelah membaca isti’âdzah dari setan yang
terkutuk, beliau membaca:
Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah
lagi Maha Penyayang: Dan (ingatlah), ketika kami
mengangkat bukit ke atas mereka seakan-akan bukit itu
naungan awan dan mereka yakin bahwa bukit itu akan
jatuh menimpa mereka
Umur dan Tanggal Kesyahidan Imam Jawad
Umur Imam ketika meninggal dunia karena di racun
adalah 25 tahun.212 Umur itu ialah yang paling sedikit di
antara dua belas imam suci. Hidup beliau sepenuhnya
175
/
TELADAN ABADI
diabdikan di jalan kejayaan Islam dan muslimin serta menyeru
umat kepada hamparan tauhid, iman, dan takwa.
Imam Jawad syahid pada 220 H, Selasa tanggal 5
Zulqaتdah. Pendapat lain adalah „lima hari terakhir Zulhijjah‰;
„6 Zulhijjah‰; dan yang lainnya lagi „akhir Zulqaتdah‰213.
Salam atas beliau pada hari beliau dilahirkan, pada masa
beliau menduduki imamah dan berjihad di jalan Tuhannya
dengan kesabaran yang penuh perhitungan, serta di hari
beliau dibangkitkan.[]
/
176
MUHAMMAD JAWAD
Episode Ketiga
Tuntutan-tuntutan Zaman Imam Jawad
Telah kita lewati dua bagian di atas. Dengan begitu kita
telah mengetahui segi-segi masa Imam Jawad. Kita
mengetahui pembawaan sikap para penguasa terhadap Imam
dan garis misi beliau. Kita juga mengetahui golongan lurus
yang bergantung kepada Imam yang benar yang memainkan
peranannya dalam membimbing umat manusia. Setelah
itu dalam bagian ini kita juga harus memahami secara global
tuntutan-tuntutan zaman Imam Jawad as. Zaman beliau
yang khas dengan kondisi-kondisinya dan perkembanganperkembangannya
dalam kebudayaan, politik, dan sosial
tampak melalui sekumpulan tanggung jawab risalah yang
diletakkan oleh syariat di pundak Ahlulbait as secara umum
dan di pundak Imam kesembilan, Imam Jawad, secara khusus.
177
/
TELADAN ABADI
Demikian itu karena Ahlulbait adalah keluarga
kenabian dan kerasulan. Mereka adalah asuhan Rasulullah
saw dan menjadi perisai kokoh yang menjaga risalah agar
tidak dipermainkan para penguasa. Mereka adalah penyuluh
setelah Rasulullah saw. Mereka juga adalah perisai yang
menjaga umat Islam dari kemunduran dan kejatuhan ke
dalam lubang yang dalam setelah umat Islam pernah menjadi
umat yang hidup dengan membawa obor peradaban Islam di
dunia. Namun umat mengalami benturan yang besar sehingga
lama berjalan menyimpang di tangan kepemimpinan politik.
Imam Jawad pada masanya yang khas di hadapan
sekumpulan pencapaian yang diwujudkan para pendahulu
beliau dalam dua lahan penting tersebut (yakni umat Islam
dan golongan yang lurus·penerj) memberi peluang untuk
berbuat sesuatu dengan leluasa di hamparan Islam. Yang
demikian itu karena para penguasa zalim hanya mempersempit
ruang gerak Ahlulbait tanpa berhadapan secara terbuka.
Imam Jawad as harus menyeimbangkan dan mengukur
antara tugas-tugas risalah di satu sisi dan kemampuankemampuan
dalam mewujudkan hal-hal yang mungkin
di sisi lain dalam kondisi yang khas. Hal tersebut untuk
mendekatkan kepada tujuan besar dan puncak yang telah
digariskan oleh syariat kepada beliau dan oleh Pemiliknya.
Syariat telah menjadikan beliau sebagai penegak risalah dan
pemimpin Ilahi yang menazarkan diri beliau kepada Allah
Swt dan demi risalah yang abadi ini.
/
178
MUHAMMAD JAWAD
Dari sini menjadi jelas apa yang diinginkan oleh masa yang
khas bagi Imam Jawad as, peran efektif beliau yang harus
dilaksanakan di lahan Islam, dan juga pencapaian-pencapaian
khas yang harus diwujudkan oleh golongan yang lurus.
Jadi pembahasan kali ini terbagi menjadi dua:
Pertama, tuntutan-tuntutan umum Islam.
Kedua, tuntutan-tuntutan golongan yang lurus.
Adapun tuntutan-tuntutan umum Islam secara ringkas
adalah sebagai berikut:
1. Menetapkan kelayakan garis Ahlulbait untuk memimpin
umat dan kelayakan Imam Jawad secara khusus untuk
menduduki kepemimpinan Ilahi.
2. Menangkal upaya-upaya penjatuhan yang dilakukan
oleh garis penguasa yang kontra Ahlulbait dan para
pecinta mereka.
3. Menyiapkan secara umum pemerintahan yang hakiki di
hadapan upaya-upaya menghapus persoalan Mahdiisme
dalam berbagai macam bentuk.
4. Menghadapi penyimpangan-penyimpangan dan bidتahbidتah
di lahan Islam.
5. Memperhatikan penderitaan-penderitaan umat Islam.
Sedangkan tuntutan-tuntutan garis risalah dan golongan
yang lurus antara lain adalah sebagai berikut:
1. Menjawab fenomena kepemimpinan yang prematur dan
yang mengabaikan hukum-hukum natural.
179
/
TELADAN ABADI
2. Memperkokoh bangunan kultural, spiritual, dan edukasional
bagi golongan yang lurus.
3. Memperkokoh penataan dan penyiapan golongan yang
lurus untuk masa kegaiban.
4. Menyiapkan kepemimpian di hadapan kondisi-kondisi
yang sulit.
5. Menyiapkan masa kegaiban Imam Mahdi al-Muntazhar
(yang dinanti-nanti) secara rasional dan spiritual dan
menyesuaikannya dengan masa-masa yang sulit dan kritis.
Akan kami bahas tuntutan-tuntutan umum Islam dan
kemudian tuntutan-tuntutan golongan yang lurus pada
bagian selanjutnya.[]
/
180
MUHAMMAD JAWAD
181
/
TELADAN ABADI
Black Cover
/
182
MUHAMMAD JAWAD
183
/
TELADAN ABADI
BAGIAN EMPAT
Episode Pertama
Imam Jawad dan Tuntutan-tuntutan Umum Islam
Ahlulbait as dan Kepemimpinan dalam Misi
Makmun Abbasi tidak mampu mewujudkan motifmotif
yang dirahasiakannya dalam menjatuhkan
kepribadian Imam Ridha as karena Imam Ridha mampu
menembus akal dan jiwa kalangan umum. Kepribadian
ilmiah Imam begitu berkilau dan esensi beliau begitu tinggi
di mata kaum yang dekat dan kaum yang jauh.
Makmun tidak melihat dirinya mempunyai peluang
kecuali dengan merekayasa pembunuhan Imam agar ia
terbebas dari keberadaan dan kehadiran Imam di tengahtengah
masyarakat Islam.
/
184
MUHAMMAD JAWAD
Poin kedua yang dihadapi Dinasti Abbasiyah pada
umumnya, dan yang tampak jelas pada perjalanan Makmun
secara khusus, ialah keresahan mereka terhadap persoalan
Imam Mahdi yang dijanjikan dan yang dinanti-nanti. Imam
inilah yang dijanjikan Allah kepada seluruh umat untuk
meluruskan dan mempersatukan mereka serta menggulingkan
tiang-tiang kezaliman. Kabar buruk yang telah diperingatkan
Rasulullah saw bagi para penguasa zalim dan berita gembira
bagi orang-orang mukmin dan kaum tertindas semakin dekat
dengan mereka.
Pada masa sebelumnya, Nabi saw menjelaskan nasab Imam
Mahdi dan kedudukannya sebagai pemimpin, yakni bahwa
dia adalah keturunan yang kesembilan dari Imam Husain.
Bahkan Nabi saw menyebut namanya dan nama ayahnya
serta semua sifat, ciri khas, dan tanda-tandanya.
Hadis semacam itu dari Nabi saw membuat kaum zalim
tidak merasa aman dan tenang. Hal itu karena Rasulullah
saw berhubungan dengan wahyu sehingga pemberitaanpemberitaan
beliau tidaklah sia-sia.
Hadis atau pemberitaan tersebut cukup menggetarkan
ketenangan jiwa para penguasa zalim. Mereka pun
menyelidikinya, bagaimana bisa hadis ini sampai ke telinga
mereka dari seorang nabi yang mereka akui?
Terutama sekali mereka mengkaji apa pun demi untuk
memperkuat kerajaan mereka dan mewaspadai ancaman apa
185
/
TELADAN ABADI
pun yang akan mengguncangkannya. Mana mungkin mereka
tidak siap menangkal bahaya yang datang?
Jumlah Ahlulbait suci yang disebutkan Nabi saw, yakni
mereka yang bertugas membawa obor risalah, adalah jumlah
yang akurat dan terbatas, yaitu dua belas khalifah. Semuanya
berasal dari Quraisy dan Bani Hasyim. Mereka adalah Ali bin
Abi Thalib dan sebelas keturunannya yang terbaik dan suci.
Sedangkan dia, Imam Ridha as, adalah yang kedelapan dari
dua belas yang dijanjikan Rasulullah saw. Imam Ridha adalah
keturunan yang kelima dari keturunan Imam Husain as, yang
sudah pasti juga dijanjikan oleh semua imam sebelumnya.
Tidak kami hindari adanya unsur-unsur yang berkaitan
dengan sistem penguasa. Ialah unsur-unsur yang berusaha
menembus golongan saleh yang aktif menjaga warisan
Ahlulbait as dan ilmu-ilmu rabbani mereka. Kaum yang
diamanati rahasia-rahasia mereka. Yakni rahasia-rahasia
yang hanya dipikul oleh orang mukmin yang diuji hatinya
oleh Allah dengan keimanan.
Para penguasa Abbasiyah jika tidak mampu menguasai
golongan saleh tersebut, maka tidak dapat menembus mereka
sedikit pun dan tidak akan memperoleh informasi-informasi
yang dapat membantu untuk mengenal garis lawan.
Dengan disertai rasa kelahiran Imam Mahdi as sudah
dekat juga ketidaktahuan kapan lahir dan munculnya,
sebelum segala sesuatunya mereka harus berusaha mencegah
/
186
MUHAMMAD JAWAD
Ahlulbait as dari melahirkan Imam Mahdi. Sebagaimana
yang dialami Firتaun dengan Nabi Musa as.
Untuk mencegah kelahiran orang yang nama dan
keberadaannya menggelisahkan mereka, mereka memperketat
pengawasan terhadap Ahlulbait. Para penguasa ini masuk
ke dalam kehidupan pribadi mereka. Maka diletakkan
pengintai khusus atas aktivitas mereka. sebagaimana tampak
jelas desakan Makmun menikahkan putrinya, Ummul Fadhl,
dengan Imam Jawad as. Ahlulbait bahkan dibatasi hingga
pada persoalan pernikahan dan reproduksi. Bukti demikian
ialah sedikitnya jumlah anak keturunan para imam setelah
Imam Ridha dalam bentuk yang serius jika kita bandingkan
dengan sebelum beliau dari segi jumlah anak dan istri.
Sebagaimana para penguasa melontarkan pengganti dari
Imam Mahdi yang dinanti-nanti umat Islam dengan memberi
nama anak-anak mereka dengan „al-Mahdi‰ dan „al-
Muhtadi‰. Untuk mengaburkan dan menyesatkan khalayak
umat bahwa merekalah yang dimaksud dalam hadis-hadis
Nabi. Tetapi tali dusta itu pendek! Dan pasti terputus. Kaum
zalim tidak mampu berpretensi sebagai manifestasi kebenaran
dalam jangka yang panjang. Tidak akan panjang kepurapuraan
mereka itu selama mereka tidak mengenakan benarbenar
baju kebenaran. Juga selama kepribadian mereka tidak
lahir dari lingkungan suci yang mensifati kebenaran dan
nilai-nilai rabbani itu sendiri.
187
/
TELADAN ABADI
Dari sini kita mendapati bahwa pengaburan ini tidak
mampu mewujudkan tujuan mereka, yaitu menutupi hakikat
Imam Mahdi al-Muntazhar as.
Tinggal langkah akhir yang memungkinkan mereka jika
sudah tidak dapat menghambat antara Ahlulbait dan hal
melahir kan Imam Mahdi as, juga tidak dapat mengaburkan
umat. Yaitu mereka harus menemukan Imam Mahdi tersebut.
Artinya menunggu kelahirannya untuk dihabisi dan supaya
diri mereka terlepas dari mimpi buruk ini. Mimpi yang
menyelimuti mereka itu adalah Imam Mahdi al-Muntaqim
(yang menuntut balas), yang menggoyahkan singgasana
kaum zalim.
Hakikat ini tidak harus diyakini sebenarnya oleh para
khalifah itu. Tetapi cukuplah kemungkinan adanya bagi
mereka, untuk disegerakan mengambil langkah-langkah
yang tajam di hadapan bahaya menyerang atau kemungkinan
yang membayangi mereka itu.
Begitulah yang terjadi di medan politik umum di satu
sisi. Sementara kebutuhan umum bagi muslimin menuntut
ketetapan harapan akan lenyapnya kegelapan dan kezaliman
dengan pedang di tangan Imam al-Qa`im (al-Mahdi as) dari
Ahlulbait Nabi. Imam yang diberitakan oleh Rasulullah saw
dan Ahlulbaitnya yang suci.
Merupakan keharusan menjaga kesinambungan bara
harapan ini dan mencegah padamnya. Karena bara itu
menggetarkan singgasana kaum penguasa zalim dan
/
188
MUHAMMAD JAWAD
melenyapkan rasa aman serta hidup nyaman mereka. Yang
satu ini adalah kebutuhan hakiki bagi umat. Adalah sebuah
hal yang penting dalam misi Ahlulbait yang tidak pernah
diberi peluang oleh sejumlah kondisi, dengan menampilkan
al-Mahdi as. Melainkan mereka hanya dapat memberikan
pendahuluan bagi kelahirannya. Dengan tetap hidupnya
Imam ini, beliau akan mengatur urusan-urusan muslimin di
balik hijab. Sampai siap baginya kondisi-kondisi revolusi suci
yang diberitakan oleh al-Quran dan dikuatkan oleh hadishadis
Nabi saw.
Di hadapan kebutuhan umum ini, kita dapati upayaupaya
Abbasiyin mencegah kelahiran al-Qaتim al-Mahdi
dari keluarga Muhammad saw. Upaya-upaya mereka menjadi
tajam, kuat, dan cepat. Karena bahaya mulai mendekati
mereka. Lalu Imam Jawad dan imam-imam sesudah beliau
berada di antara dua perkara yang penting:
Pertama, menjaga harapan besar itu dan kesinambungan
baranya.
Kedua, mencegah kekuasaan antikelahiran Imam Mahdi
as. Melakukan pencegahan antara mereka (para penguasa)
dan kedekatan dengan al-Mahdi, upaya tangan kotor mereka
tidak sampai menyentuhnya. Supaya mereka tidak dapat
merampas akhir kepemimpinan rabbani yang dipersembahkan
Allah. Untuk membawa bendera kebenaran dan panji Islam,
dan mewujudkan harapan-harapan para nabi di sepanjang
zaman. Sebagaimana mereka (para penguasa) sebelumnya
189
/
TELADAN ABADI
telah merampas kepemimpinan ayah-ayahnya (al-Mahdi as)
dan memblokade imam yang hidup di masa mereka.
Para imam Ahlulbait as telah mampu memberi kabar
tentang para penguasa yang menyimpang, melalui sirah
mereka yang suci yang membentuk tantangan terbuka dalam
amal, ilmu, dan akhlak. Sehingga tampak jelas bagi umat
sejumlah dinding tebal antara garis penguasa dan garis pihak
yang berhak mengatur urusan-urusan pemerintahan dan
kepemimpinan Islam.
Umat masih terus perlu mengetahui lebih banyak
dari dinding-dinding spiritual antara dua garis tersebut.
Sebagaimana harus memahami hakikat kerelaan-kerelaan
palsu yang di baliknya bersembunyi para penguasa zalim.
Makmun telah berhasil mendekati Imam Jawad as. Suatu
pendekatan yang bisa dekat dengan beliau, menikahkan
beliau dengan putrinya, supaya dapat mengawasi gerak-gerik
Imam. Supaya dapat mencegah beliau dari berketurunan
melalui putrinya214 dan perempuan lain, jika itu menjadi
target Makmun sebagai perwujudan sejumlah tujuan yang
telah kami sampaikan dalam kajian ini.
Para penguasa sesudah Makmun tidak beda dengan cara
yang halus ini. Karena mereka tidak melihat sebagai gantinya
setelah Makmun menyingkap dirinya telah memperdaya
Imam Ridha dan terlepas dari pengawas besar (yakni Imam
Ridha) yang mengancam kerajaannya. Tetapi dia menerima
ujian lagi dengan pengawas baru (yakni Imam Jawad) yang
/
190
MUHAMMAD JAWAD
menang dalam tantangan dan menyumbat hidung-hidung
kaum zalim.
Dari sini kondisi-kondisi Imam Jawad as terutama usianya
yang sembilan tahun, membentuk pertanyaan fundamental,
pertama bagi Makmun. Kedua, bagi semua orang. Ketiga
bagi sebagian Syiتah Ahlulbait. Pertanyaannya ialah tingkat
kelayakan bagi anak kecil ini (yakni Imam Jawad) menduduki
imamah dan kepemimpinan rabbani yang wajib ditaati. Ialah
kepemimpinan yang merobek semua hijab politik untuk
mengukuhkan kelayakan beliau kepada semua, jika memang
demikian itu memaksa. Karena kelangsungan garis rabbani
ini dan penetapan validitas garis Ahlulbait beserta misi
rabbaninya, keduanya adalah segala-galanya. Maka dari itu
Imam Jawad mengharuskan diri tampil menjawab semua
pertanyaan, menantang semua daya politik dan keilmuan
yang termuat di atas panggung Islam, agar menjadi mudah
baginya menjalankan tugas-tugas suci lainnya di dua lahan
sekaligus, secara umum (yakni umat Islam) dan khusus (kaum
mukmin pecinta Ahlulbait·penerj).
Jadi penetapan imamah terhadap dua komunitas
tersebut adalah tugas utama Imam Jawad pasca kesyahidan
ayah beliau, Imam Ridha, yang telah menjanjikan dan
mengenalkan Jawad kepada para sahabat dan pengikut
Ridha. Karena Imam Ridha mengalami rencana-rencana
Makmun. Beliau mengetahui tujuan-tujuan terselubungnya
dari pernyataan wilâyatul ‘ahdi-nya yang buruk. Yakni
191
/
TELADAN ABADI
menyerahkan kepemimpinan (secara paksa) sesudah dirinya
kepada beliau, yang kemudian dapat dimanfaatkan oleh
beliau untuk kepentingan Islam meskipun dalam masa yang
singkat. Meskipun membebani dalam kehidupan beliau yang
berharga untuk dipersembahkan secara murah di hadapan
Allah Swt.
Jawaban-jawaban Imam Jawad di majelis-majelis umum
untuk para khalifah atas pertanyaan-pertanyaan yang
dilontarkan kepada beliau, adalah sebuah langkah yang baik
untuk menetapkan legalitas atau kelayakan garis Ahlulbait.
Juga menetapkan imamah Imam Jawad dan kelayakan
beliau dalam ilmu serta kepribadian beliau dalam memimpin
segenap muslimin. Sebagai penyempurnaan hujjah (itmâmul
hujjah) atas mereka dan atas para khalifah serta ulama yang
mendampingi mereka.
Pada saat yang sama, langkah tersebut membentuk
sebuah tantangan keilmuan bagi para khalifah. Juga bagi
ulama mereka yang telah membentuk aral keilmuan dan latar
belakang kultural dan syarتi di mata sekelompok masyarakat.
Yakni masyarakat yang tumbuh dalam lingkungan yang
menyimpang dari garis risalah Muhammad yang asli.
Adalah mereka yang terpedaya oleh fenomena-fenomena dan
propaganda-propaganda. Tanpa mereka menyelami dasar
peristiwa-peristiwa dan arus-arus yang menyimpang di
masyarakat Islam saat itu.
/
192
MUHAMMAD JAWAD
Sebagaimana langkah Imam itu menangkis upaya-upaya
para penguasa dalam menjatuhkan Ahlulbait as. Mereka
Ahlulbait yang membentuk oposisi bisu dan garis kontra para
khalifah diktator. Dan mereka para khalifah yang duduk di
atas kursi pemerintahan di luar janji Tuhan. Sebagaimana
keyakinan Ahlulbait mengenai imamah, bahwa seorang imam
harus maksum (terpelihara dari dosa, salah, dan lupa) dan
telah dijanjikan Allah Swt.
Islam dan Fenomena Kepemimpinan Prematur dalam
Madrasah Ahlulbait as
Eksistensi Imam Jawad membentuk sebuah dalil atas
kebenaran akidah Ahlulbait dalam imamah.
Hal ini karena fenomena penempatan seorang anak kecil
menduduki kepemimpinan berikut perkara-perkaranya, dapat
memberikan sebuah dalil pasti bagi kita atas kebenaran akidah
ini. Sebuah akidah yang membedakan mazhab Ahlulbait dari
mazhab-mazhab lainnya. Yakni dalam masalah imamah, yang
dipandang sebagai kedudukan rabbani yang tidak berlaku
atas dasar pemilihan dan pencalonan manusia. Tetapi atas
dasar penentuan dan pengangkatan Tuhan bagi pribadi yang
berhimpun dalam eksistensinya semua unsur kelayakan dan
kemampuan hakiki, untuk mengurusi kedudukan rabbani
ini berupa kepemimpinan pemikiran ilmiah, religius, dan
praktis. Dengan imamahnya ia memimpin kaum mukmin
bahkan muslimin seluruhnya.
193
/
TELADAN ABADI
Para sejarahwan sepakat atas bahwa Imam Jawad
ketika ayah beliau wafat, usia beliau tidak lebih daripada
tujuh tahun. Beliau menempati kedudukan imamah sesudah
ayahnya, dalam usia masih kanak secara lahir.
Fenomena ini adalah awal fenomena dari segi macamnya
dalam kehidupan para imam Ahlulbait as. Jika kita pelajari
fenomena ini berdasarkan standar-standar Ilahiah di satu
sisi dan kejadian-kejadian historis, tentu kita dapati adanya
yang tersendiri untuk kemantapan akan validitas madrasah
Imam Jawad dan garis Ahlulbait as yang diperankan oleh
Imam Jawad.
Lalu mana mungkin kita terapkan asumsi lain selain
asumsi kepemimpinan rabbani yang hakiki pada diri seorang
yang umurnya tidak lebih daripada tujuh tahun. Ia yang
secara faktual memimpin dan membimbing umat dalam
semua bidang spiritual, rasional, dan religius, baik doktrinal
maupun non-doktrinal.
Asumsi-asumsi lain yang tidak bisa diterima di sini ialah
sebagai berikut:
Asumsi pertama, bahwa kaum Syiتah yang mengimani
imamahnya pribadi ini, tidak pernah terbuka bahwa si
pendaku imamah adalah seorang anak kecil.
Asumsi ini tidak benar. Karena kepemimpinan seorang
imam dari Ahlulbait bukan kepemimpinan yang harus
dikawal polisi dan tentara atau kebesaran raja dan sultan
yang menutupi sang pimpinan dari rakyatnya.
/
194
MUHAMMAD JAWAD
Juga bukan kepemimpinan yang tertutup seperti
seruan-seruan sufisme dan seruan-seruan kebatinan lainnya
seperti sekte Fathimiyah yang menutupi antara ujung dan
pangkalnya.
Imam Jawad adalah seperti imam lainnya dari Ahlulbait
as. Beliau terbuka di hadapan umat. Umat pun dengan semua
lapisan berinteraksi dengan beliau dalam masalah-masalah
keagamaan, spiritual, dan moral.
Sesungguhnya Imam Jawad as sendiri mendesak Makmun
setelah diminta datang ke Baghdad, agar dibolehkan kembali
ke Madinah. Setelah diizinkan maka beliau kembali dan
menjalani sisa umurnya atau umurnya yang masih panjang di
Madinah.
Dan Imam Jawad tetap terbuka di hadapan berbagai
lapisan muslimin termasuk kaum Syiتah yang mengimani
imamah beliau.
Jadi asumsi bahwa beliau tidak pernah terbuka di
hadapan Syiتah beliau pada khususnya, adalah pertama,
bertentangan dengan tradisi hubungan yang terjalin sejak
awal antara Ahlulbait dan para pendukung mereka.
Kedua, bahwa Imam Jawad diliputi perhatian-perhatian
khusus oleh khalifah Abbasiyah. Sebagaimana dalam sejarah
tentang pernikahan beliau dengan Ummul Fadhl, putri
Makmun. Begitu juga pengawasan Abbasiyin terhadap
beliau, untuk menolak sikap Makmun terhadap Imam. Ini
195
/
TELADAN ABADI
adalah bukti lain atas batilnya kemungkinan bahwa beliau
tidak terbuka di hadapan muslimin.
Asumsi kedua, tingkat atau level pemikiran dan
keilmuan yang dimiliki kaum Syiتah saat itu, bukan dalam
level yang diinginkan. Maksudnya, yang menjadikan mereka
dapat memilah yang salah dari yang benar dalam masalah
mengimani kepemimpinan seorang anak kecil yang mendaku
sebagai imam. Padahal dia bukanlah seorang imam.
Asumsi ini juga merupakan hal yang tidak diakui oleh
realitas sejarah bagi kelompok tersebut yang telah mencapai
suatu tingkat kelimuan dan kefikihan.
Kelompok ini telah dibesarkan oleh Imam Baqir dan
Imam Shadiq. Pada dirinya, terdapat madrasah terbesar
bagi pemikiran Islam di dunia Islam secara mutlak. Ia
adalah madrasah yang telah mencetak dua generasi yang
berkelanjutan, yaitu: generasi murid-murid Imam Shadiq
dan Imam Kazhim dan generasi murid-murid dari muridmurid
mereka.
Dua generasi tersebut memiliki keistimewaan di bidangbidang
fikih, tafsir, teologi, hadis, dan akhlak serta bahkan
dalam semua bidang pengetahuan Islam.
Jadi level pemikiran dan keilmuan yang dimiliki kelompok
itu tidak mungkin secara ceroboh memiliki keyakinan seperti
itu (yakni keyakinan kepada kepemimpinan prematur·
penerj). Kepemimpinan prematur tidak akan mampu selama
/
196
MUHAMMAD JAWAD
tidak memiliki kepekaan hakiki, dalil logis dan rasional
sementara konsekuensi keimanan kepada imamah prematur
ini justru melahirkan banyak tantangan. Tantangan dari semua
kondisi dan realitas kehidupan yang bila para penganutnya
menjalankan keimanannya, maka jiwa mereka terancam.
Mereka terancam ditindas, diusir, dan dibunuh.
Jika seseorang dapat mengonsepsikan bahwa ada seorang
laki-laki alim yang menguasai ilmu, berwawasan luas, dan
berumur antara 50 atau 60 tahun, maka ia akan mampu
membuat sejumlah orang rela dengan kepemimpinan itu.
Padahal dia bukan seorang imam meskipun mencapai tingkatan
yang tinggi dari ilmu, makrifat, kecerdasan, dan wawasan. Jadi
yang demikian ini tidak bisa kita asumsikan kepada seorang
yang berusia di bawah sepuluh tahun karena tidak mungkin ia
mampu membuat banyak orang rela dengan kepemimpinannya
itu. Sementara itu, dia terbuka di hadapan mereka dan mereka
mempunyai sebuah madrasah pemikiran yang sangat besar di
dunia Islam saat itu, yang sebagian unsurnya di Kufah, sebagian
di Qom, dan sebagian lagi di Madinah. Inilah madrasah yang
tersebar di peradaban-peradaban dunia Islam dan bertalian
langsung dengan Imam Jawad. Madrasah ini menerima fatwa
dari beliau dan bertanya kepada beliau.
Jadi tidak dapat kita gambarkan bahwa madrasah seperti
itu lalai dari hakikat anak kecil yang bukan seorang imam.
Asumsi ketiga, pengertian imam dan imamah dalam
Syiتah tidak pernah jelas. Bahkan konsep mereka itu adalah
197
/
TELADAN ABADI
bahwa imamah hanyalah mata rantai nasabi (genealogikal)
dan bersifat turun temurun. Mereka juga tidak mengetahui
apakah imam itu. Apakah nilainya dan syarat-syaratnya.
Asumsi di atas dibantah oleh pernyataan hadis mutawatir
dari Imam Ali hingga Imam Ridha tentang syarat-syarat dan
hakikat imamah serta tanda-tanda seorang imam. Kelompok
ini (pecinta Ahlulbait as·peny) membedakan diri mereka
dari kelompok-kelompok dan mazhab-mazhab lainnya yang
menempatkan imamah sebagai kedudukan manusiawi (bukan
Ilahiah·penerj), yang memungkinkan untuk ditunggangi,
dirampas, dan diklaim siapa pun.
Sedangkan kaum Syiتah Imamiyah berdiri di atas
konsep Ilahiah yang mendasari imamah ini. Konsep ini
termasuk di antara konsep-konsep utama dan aksiomatis
bagi kaum tersebut. Dalam konsep Syiتah, seorang imam
adalah manusia nomor wahid dalam semua bidang: ilmu,
akhlak, ucapan, dan perbuatannya. Konsep ini merupakan
berkah yang besar bagi sekelompok umat dari masa Imam
Ali hingga masa Imam Ridha.215
Setiap perincian dan kekhususan secara bertahap menjadi
jelas dan terpusat bagi kaum Syiتah.
Seorang perawi hadis menyampaikan, „Aku masuk ke
Madinah setelah Imam Ridha wafat. Aku bertanya tentang
khalifah setelah Imam Ridha as. Dikatakan, آKhalifah berada
di sebuah desa dekat Madinah.ت Maka aku pergi ke desa
tersebut. Ketika aku tiba di desa itu, di sana terdapat sebuah
/
198
MUHAMMAD JAWAD
rumah milik Imam Musa bin Jaتfar (al-Kazhim as) yang
diwarisi oleh anak-anaknya. Aku melihat rumah itu penuh
dengan orang-orang. Aku melihat salah seorang saudara
Imam Ridha as sedang duduk di muka majelis. Hanya saja
orang-orang mengatakan bahwa dia bukan seorang imam
setelah Imam Ridha. Hal itu karena kami mendengar dari
para imam, bahwa imamah tidak terjadi pada dua bersaudara
setelah Imam Hasan dan Imam Husain.‰
Semua perincian dan kekhususan nasabiyah (dalam nasab)
dan maknawiyah adalah jelas dan konkret bagi kelompok
tersebut.
Jadi asumsi ketiga juga tertolak oleh realitas nas yang
kokoh dan mutawatir dari para imam terdahulu atas Imam
Jawad as.
Asumsi keempat, kelompok Syiتah berkomplot dalam
kebohongan dan kebatilan.
Asumsi ini bertentangan dengan kenyataan. Bukan
lantaran kepercayaan kami saja kepada ketakwaan dan
kesucian kelompok tersebut tetapi juga karena kondisi
objektif bagi kelompok inilah yang menolak asumsi tersebut.
Para pengikut Ahlulbait sesaat pun tidak pernah berada
pada sebuah jalan untuk mengejar pujian, harta, kedudukan,
kebesaran, dan tingkat-tingkat kemuliaan lainnya. Sepanjang
masa, kaum pengikut Ahlulbait menjadi sasaran siksaan,
penahanan, pengucilan, dan pemusnahan.
199
/
TELADAN ABADI
Ahlulbait menjadi jalan yang berduri dan berisiko.
Rasa takut, taqiyah (menjaga diri), dan penghinaan adalah
fenomena-fenomena yang menyertainya. Lantas apa manfaat
material dalam berkomplot atas kebohongan dan kebatilan
dalam persoalan imamah ini!
Benarkah kaum intelektual Syiتah, para tokoh, dan
ulamanya berkomplot atas kepemimpinan yang batil dengan
konsekuensi harus menghadapi berbagai macam tekanan dan
siksaan? Logika mana yang menikmati semua konsekuensi ini
hanya karena berpegang teguh kepada perkara yang batil?
Bukankah kondisi-kondisi objektif ini menjadi bukti
bahwa keyakinan tersebut lahir dari hakikat yang kokoh.
Hakikat yang melazimkan kelompok tersebut untuk
memahami dan mengimaninya walaupun harus menerima
segala konsekuensi dan dampak-dampaknya dengan terbebani
oleh kehidupan material di sepanjang garis ketentuan syarتi.
Jadi tinggallah asumsi yang terakhir, yaitu bahwa Imam
Jawad dengan klaim „imamah prematur‰-nya ini menantang
semua orang di hadapannya dengan keteguhannya di hadapan
semua provokasi, pertanyaan, dan pengujian. Semua itu
membentuk dalil historis ilmiah yang meyakinkan atas validitas
pengakuannya, pemikirannya, dan garis perjuangannya, yaitu
garis Ahlulbait as, yang diperankan Imam Jawad as dalam
memimpin umat. Imam Jawad menduduki kepemimpinan
umat Islam yang berawal di bawah kepemimpinan Nabi saw
yang kemudian beliau saw titipkan kepada para pewarisnya.
/
200
MUHAMMAD JAWAD
Hal itu dilakukan guna merintis dan menyempurnakan
peradaban Islam atas dasar-dasar Ilahiah dan nilai-nilai
rabbani.
Warisan berharga dari Imam Jawad yang sampai kepada
kita adalah sebuah bukti pasti atas keagungan peran yang
dimainkannya, Yakni peran beliau dalam kristalisasi akidah
Syiتah dalam masalah kepemimpinan Islam yang diperkuat
oleh ayat-ayat al-Quran dan hadis-hadis Nabi saw.216
Imam Jawad dan Konsep-konsep Menyimpang di tengah Umat
Ghuluw (baca: hal berlebihan) tidak hanya satu macam
tetapi banyak macamnya. Di antaranya adalah berlebihan
dalam persoalan kedudukan sahabat. Dalam dialog interaktif
antara Imam Jawad dengan Yahya bin Aktsam di hadapan
orang banyak, terutama Makmun Abbasi, Imam menolak
kecenderungan-kecenderungan yang berlebihan dalam
kedudukan sahabat. Perhatikan hadis di bawah ini:
Diriwayatkan bahwa setelah menikahkan putrinya
dengan Abu Jaتfar (Imam Jawad as), Makmun mengadakan
majelis yang dihadiri Abu Jaتfar dan Yahya bin Aktsam.
Yahya berkata kepada Imam, „Apa komentar Anda
tentang hadis yang meriwayatkan bahwa Jibril turun kepada
Rasulullah saw dan berkata, آHai Muhammad, sesungguhnya
Allah menyampaikan salam dan berkata kepada Anda,
آBertanyalah kepada Abu Bakar, apakah dia itu seorang kaya
yang ikhlas? Sesungguhnya Aku ridha kepadanya!ت‰
201
/
TELADAN ABADI
Imam Jawad menjawab, „Aku tidak mengingkari
keutamaan Abu Bakar. Akan tetapi, perawi hadis ini harus
merujuk kepada hadis yang disabdakan Rasulullah saw dalam
Hajjatul Wadaت (baca: haji perpisahan) bahwa, آTelah banyak
kebohongan atas namaku dan akan banyak pula sesudahku!
Barangsiapa berdusta terhadapku dengan sengaja, maka
tempatilah tempat yang layak baginya di dalam api neraka.
Jika datang kepada kalian hadis dariku, maka kembalikan
hadis itu kepada Kitabullah (al-Quran) dan sunahku. Apabila
sesuai dengan Kitabullah dan sunahku maka ambillah! Namun
apabila bertentangan dengan Kitabullah dan sunahku, maka
jangan kalian ambil.ت Sementara itu, hadis tersebut tidaklah
sesuai dengan Kitabullah dimana Allah berfirman:
Dan sesungguhnya Kami telah menci ptakan manusia dan
mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan kami
lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya.
Jadi, (jika menuruti uraian hadis itu) kerelaan Abu
Bakar tertutup (tidak diketahui) Allah Azza wa Jalla
karena murka-Nya sehingga Dia bertanya tentang hal yang
disembunyikan-Nya, ini mustahil secara akal.‰
Yahya berkata, „Diriwayatkan bahwa kedudukan Abu
Bakar dan Umar di bumi ini seperti kedudukan Jibril dan
Mikail.‰
Imam menjawab, „Ini juga harus ditinjau kembali karena
Jibril dan Mikail adalah dua malaikat Allah yang dekat
/
202
MUHAMMAD JAWAD
dengan-Nya. Mereka tidak pernah bermaksiat kepada Allah
dan tidak pernah meninggalkan ketaatan kepada Allah sekali
pun. Sedangkan mereka (Abu Bakar dan Umar) pernah
menyekutukan Allah meskipun sebelum masuk Islam. Jadi
adalah mustahil mereka itu diserupakan dengan dua malaikat
yang tidak pernah berbuat dosa.‰
Yahya berkata, „Diriwayatkan bahwa keduanya adalah
pemuka para orang tua penghuni surga. Bagaimana menurut
Anda mengenai hal ini?‰
Imam menjawab, „Hadis ini juga mustahil karena semua
penghuni surga adalah para pemuda. Tidak ada penghuni
surga yang berusia lanjut. Hadis tersebut dibuat oleh Bani
Umayah sebagai tandingan hadis yang disabdakan oleh
Rasulullah saw tentang Hasan dan Husain bahwa mereka
adalah dua pemuka para pemuda penghuni surga.‰
Yahya berkata, „Diriwayatkan bahwa Umar bin Khattab
adalah pelita penghuni surga.‰
Imam menjawab, „Ini juga mustahil karena di dalam
surga Nabi Adam hingga Nabi Muhammad saw tidak akan
disinari dengan cahaya-cahaya para malaikat apalagi dengan
cahaya Umar!‰
Yahya berkata, „Diriwayatkan bahwa ketenangan
berbicara berada pada lisan Umar.‰
Imam menjawab, „Aku tidak mengingkari keutamaan
Umar tetapi Abu bakar lebih utama daripada Umar. Dia (Abu
203
/
TELADAN ABADI
Bakar) pernah berkata·di atas mimbar·آSesungguhnya aku
memiliki setan yang menunggangiku, maka luruskan aku jika
aku menyimpang.‰
Yahya berkata, „Diriwayatkan bahwa Nabi saw pernah
bersabda, آSeandainya aku tidak diutus maka diutuslah Umar.ت‰
Imam menjawab, „Kitabullah lebih benar daripada hadis
tersebut. Dalam al-Quran, Allah berfirman:
Dan (Ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari
nabi-nabi dan dari kamu (sendiri) dan dari Nuh...
Allah mengambil perjanjian dari para nabi, maka mana
mungkin Dia mengubah perjanjian-Nya itu. Sementara
itu, para nabi dalam hidupnya tidak pernah sekali pun
menyekutukan Allah? Mana mungkin Allah mengutus orang
yang pernah musyrik sebagai nabi? Rasulullah saw bersabda,
آAku sudah menjadi nabi ketika Adam berada di antara ruh
dan jasad.ت‰
Yahya berkata, „Diriwayatkan bahwa Nabi bersabda,
آTidak pernah tertahan olehku wahyu melainkan aku mengira
wahyu itu telah turun kepada keluarga Khaththab.ت‰
Imam menjawab, „Ini juga mustahil karena tidak boleh
Nabi saw ragu dalam kenabiannya. Allah berfirman:
Allah memilih utusan-utusan-(Nya)dari malaikat dan
dari manusia.
/
204
MUHAMMAD JAWAD
Jadi mana mungkin, kenabian tiba-tiba berpindah dari
orang yang telah Allah pilih kepada orang yang pernah
menyekutukan Dia!‰
Yahya berkata, „Diriwayatkan bahwa Nabi bersabda,
آSeandainya azab turun maka tidak ada yang akan selamat
darinya kecuali Umar.ت‰
Imam menjawab, „Ini juga mustahil karena Allah Swt
berfirman:
Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang
kamu berada di antara mereka dan tidaklah (pula) Allah akan
mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun.
Jadi Allah memberitahu bahwa Dia tidak mengazab
seorang pun selagi ada Rasulullah saw di tengah mereka.‰221
Dalam nas-nas tersebut, terdapat bukti-bukti yang
cukup bagi adanya tahrîf (penyimpangan) yang mendominasi
wilayah hadis. Adanya bidتah-bidتah yang diselundupkan ke
dalam sunah suci Nabi saw di masa Dinasti Umayah dan
Abbasiyah. Bidتah-bidتah tersebut sampai mewarnai realitas
umat meskipun keberadaannya bertentangan dengan nas-nas
al-Quran. Ini menyingkapkan betapa mundurnya tingkat
pemahaman di kalangan ulama, terlebih lagi di kalangan
umat mereka.
Dialog di atas menyingkapkan besarnya keberanian Imam
Jawad as, kekuatan logika beliau, dan peran besar beliau dalam
205
/
TELADAN ABADI
meluruskan penyimpangan-penyimpangan yang berbahaya
tersebut. Penyimpangan-penyimpangan itu bahkan telah
mengaburkan hakikat-hakikat agama (baca: Islam).
Imam Jawad dan Kepedulian kepada Penderitaan Umat Islam
Imam Jawad as amat peduli dan mengabdi kepada umat.
Beliau mengajak mereka kepada Islam sejati, yang diajarkan
datuknya, Muhammad saw. Ia pun menghimpun mereka kepada
ajaran Ahlulbait as. Di bawah ini adalah contoh-contohnya.
1. Ketika bertolak ke Madinah dari tempat Makmun di
Baghdad bersama Ummul Fadhl, Abu Jaتfar (Imam
Jawad as) melewati jalan Babul Kufah dan orang-orang
mengiringi beliau. Beliau berhenti di Darul Musayab
ketika matahari terbenam. Beliau mampir dan memasuki
mesjid. Di halaman mesjid, terdapat sebuah pohon yang
tidak pernah berbuah sebelumnya. Beliau berdoa pada
sebuah wadah yang berisi air. Kemudian, beliau berwudhu
di bawah pohon itu, mendirikan shalat magrib bersama
orang-orang. Pada rakaat pertama, beliau membaca surah
al-Fatihah dan surah al-Ashr. Pada rakaat kedua, beliau
membaca surah al-Fatihah dan surah al-Ikhlash. Lalu,
beliau membaca qunut sebelum rukuk. Setelah salam,
beliau duduk tenang seraya berzikir kepada Allah Swt.
Kemudian, beliau berdiri tanpa membaca ta’qîb (wirid
setelah shalat wajib) untuk melakukan shalat sunnah
nâfilah empat rakaat. Beliau membaca ta’qîb setelah itu
/
206
MUHAMMAD JAWAD
dan melakukan sujud syukur. Kemudian beliau keluar.
Kemudian, orang-orang melihat pohon tadi menghasilkan
buah yang banyak lagi bagus. Mereka heran akan hal itu.
Lalu mereka memakan buah-buahnya. Mereka mendapati
buah-buah itu manis dan tanpa biji. Kemudian beliau
berangkat ke Madinah.222
Imam Jawad menyodorkan suatu dalil atas imamah beliau
kepada mereka melalui perkara-perkara inderawi.
Di samping itu, kepedulian Imam untuk mengabdi
kepada mereka mencerminkan pentingnya perkara ini
dan keutamaannya dalam Islam. Hal ini terlihat dari
perhatian beliau untuk membimbing mereka melalui
contoh-contoh praktis lagi nyata.
2. Diriwayatkan dari Syekh Abu Bakar bin Ismail yang
berkata, „Aku berkata kepada Abu Jaتfar bin Ridha,
آAku mempunyai seorang jâriyah (budak perempuan)
yang mengeluhkan soal angin yang dialaminya.ت
آBawa dia kemari,ت kata beliau.
Maka aku datang bersamanya.
آApa yang kamu keluhkan wahai jâriyah?ت tanya beliau.
آSoal angin di antara kedua lututku,ت jawabnya.
Lalu, tangan beliau mengusap kedua lutut itu di atas
pakai annya. Kemudian budak perempuan itu pun keluar
dari tempat beliau dan tidak pernah mengeluh sakit
setelah itu.ت‰223
[
Jumlah Kunjungan: 167]
 |